Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2014

Anak Bukan “Anak-Anak”*

Masa anak-anak merupakan masa yang penting dalam tahap perkembangan manusia. Dimulai dari masa anak-anak pembelajaran moral,sosial dan berbagai macam hal diajarkan. Berbagai macam hal yang diajarkan pada masa anak-anak akan melekat pada diri anak tersebut sampai dengan ia dewasa, bahkan terus dibawa sepanjang hidupnya. Pada masa anak-anak inilah mulai ditanamkan karakter. Sehingga tidaklah mengherankan jika masa anak-anak ini disebut masa keemasan. Namun, dewasa ini perkembangan anak berjalan tidak semestinya. Seiring pesatnya perkembangan teknologi dan informasi turut menggerus dunia anak-anak yang penuh dengan pembelajaran moral yang nyata.

Perlukah Pemerintah Menjadi Tuli?*

Anak tunarungu adalah anak yang memiliki keterbatasan pendengaran maupun tidak dapat mendengar sama sekali meskipun menggunakan alat bantu dengar. Anak tunarungu memiliki kemampuan bahasa yang lebih rendah dari anak normal dengan usia yang sama. Mereka memiliki kesulitan memahami kata kiasan, dan kata-kata yang bersifat abstrak. Seperti mimpi, janji, dan sebagainya. Hal ini dikarenakan mereka tidak pernah memiliki simpanan bunyi. Kemampuan bahasa mereka terbatas pada Bahasa Indonesia sederhana berupa yang kata dasar tanpa imbuhan.

Aktor Dan Panggung Politik*

            Pesta rakyat demokrasi akan di mulai pada tanggal 9 Juli 2014 pada tanggal 9 Juli mendatang rakyat yang sudah mempunyai hak pilih akan ikut berpartisipasi untuk menentukan sang aktor capres dan cawapres yang akan memimpin bangsa Indonesia lima tahun mendatang. Bangsa Indonesia  lima tahun mendatang ada di tangan sang aktor capres dan cawapres.

STOP! Candaan dengan kata ‘Autis’!*

Manusia dalam kelompoknya sering menggunakan candaan sebagai alternatif pencair suasana ataupun seni dalam berkomunikasi. Bercanda meskipun terkesan kurang serius, tetap saja mengemban makna. Sayangnya dalam beberapa kesempatan, kerap ditemui candaan yang merendahkan keberadaan suatu kaum tertentu, dalam hal ini contohnya kaum autis.“Autis loe!”   atau “Dasar autis!” adalah seloroh yang dilayangkan ketika kita mengejek kawan, ataupun lawan bicara yang pada saat itu bertingkah aneh bahkan cenderung konyol atau ketikasedang asyik sendiri dengan gadget miliknya—tanpa peduli lingkungan sekitar--tanpa menyadaristigma terselubung yang diampu oleh candaan itu—stigma yang secara perlahan menciderai   citrakaum autis.

Sinetron Meracuni Remaja*

Kebanyakan Remaja masa kini itu gemar menonton sinetron, berharap kisah cintanya  seperti kisah dalam sinetron, tapi dalam kenyataannya itu adalah hal yang sia sia. Ilmu tentang cinta yang mereka ketahui itu kebanyakan ngaco, sangat gila. Banyak mitos mitos tentang cinta yang membuat fikiran mereka itu berfikir gila. Kenapa saya bilang itu pemikiran gila, karena media sudah meracuni mereka yang memberikan pelajaran-pelajaran tentang cinta tapi ngaco, sangat gila. Mereka belajar cinta dari mana, dari Tv, lihat sinetron, film film alay yang diberikan adalah cinta itu galau, tertindas, alay, dan cinta itu banyak tipuan, hati hati pria tipu wanita, pria  harus berkorban demi wanita, pria harus berperang dan bersaing dengan pria lain demi mendapatkan 1 wanita. Itu semua adalah hal  yang gila,  mitos mitos sudah meracuni mereka. Dan anehnya lagi mereka itu mempercayai seakan sudah terkonsep dalam otaknya.

IPK Tinggi, Kerja di Tempat Bergengsi? Tunggu dulu…*

Sudah menjadi persepsi bagi mahasiswa bahwa yang memiliki IPK terbaik adalah yang paling terbaik. Indeks Penilaian Kumulatif atau yang lebih sering dikenal dengan IPK adalah mekanisme penilaian keseluruhan prestasi dalam sistem perkuliahan mahasiswa di Perguruan Tinggi. Hal tersebut  wajar bagi mahasiswa peraih IPK terbaik atau tinggi merasa bangga dengan apa yang telah dihasilkan. Bila IPK terbaik dapat dibanggakan oleh mahasiswa di lingkungan kampus, namun hal tersebut tidak berlaku sepenuhnya di lingkungan pekerjaan.

LPJ Ajarkan Korupsi pada Mahasiswa*

Jika kita membicarakan tentang korupsi memang tidak akan pernah ada habisnya. Dari siapa yang bertanggung jawab sampai bagaimana korupsi itu selau meracuni moral bangsa Indonesia. Banyaknya koruptor juga tidak lepas dari peran pendidikan yang ada pada jenjang sekolah ataupun pendidikan yang tertanam pada keluarga sejak kecil. Kebiasaan berbohong yang di ajarkan oleh para orang tua memicu salah satu bibit-bibit koruptor. Contohnya seperti ini, ada orang tua bilang ke anaknya “nak nanti kalau ada yang mencari mama, bilang yaa mama sedang keluar” padahal si mama sedang asyik-asyik menonton TV di dalam rumah. Secara tidak langsung sang mama mengajarkan berbohong pada si anak. Ketika anak terdidik untuk tidak jujur, maka kebiasaan ini akan membentuk karakternya, apalagi tanpa adanya landasan agama yang jelas.

Fisik Bukan Utama, Pria Harus Perhatikan Hal Lain!*

Pernahkah anda berpikir apa yang menjadi daya pikat utama seorang pria? Apakah yang punya wajah berkarakter, tubuh atletis, wangi, berjambang, dan berpenampilan kece ? Bisa jadi. Namun bukanlah yang utama. Atau bisa dibilang kriteria yang paling buncit lah . Sesosok pria yang ”hanya” mengutamakan fisiknya dalam mencari pasangan bisa jadi salah besar. Karena wanita zaman sekarang adalah wanita yang cerdas dan realistis. Maka pesona ragawi dan penampilan yang aduhai akan jadi sia-sia jikalau aspek yang ada di atasnya dikesampingkan.

LPM Siar, Makanan Apa?*

LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) Siar yang ada di Universitas Negeri Malang nampak seperti makhluk gaib, yang ada namun tiada. Keberadaanya pun seakan diragukan bahkan di pertanyakan. Terbukti, hanya sekitar tiga dari delapan mahasiswa UM sendiri yang tahu tentang keberadaan LPM Siar. Dosen dan civitas UM yang lain, entah tahu atau tidak tentang LPM Siar. Mungkin ada lebih sedikit yang tahu tentang sedikit hal tentang LPM Siar.