Skip to main content

PKPT Sastra Lancar, PPU FS Banyak Kendala



Cukup banyak kendala yang terjadi di acara Pengenalan Kehidupan Perguruan Tinggi (PKPT)  hari pertama kemarin (13/8). “Ada kendala di presensi saat Maba datang pagi kemarin, presensinya belum ada padahal Maba udah banyak yang dateng,” ujar Andika (FS/11)  selaku ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Sastra (BEM FS). Andika juga menambahkan, jika seluruh presensi untuk Maba menjadi tanggung jawab ketua BEM FIP dan ternyata orang yang bersangkutan terlambat hadir di Graha Cakrawala. “Ya, solusinya presensi dibuat berjalan setelah pembukaan acara,” tambah Andika (FS/11).  Kertas pembatas untuk penanda masing-masing fakultas juga menjadi salah satu kendala lain yang dialami Panitia Pelaksana Universitas (PPU) FS. Kertas pembatas terlalu kecil dan kurang jelas sehingga berdampak pada Maba yang kesulitan untuk mencari fakultas masing-masing. “Maba FE membludak, sampai ada yang tercampur dengan Maba FS sehingga presensi FS malah berjalan sampai ke FE,” imbuh Andika. 

 Kendala lain yang dialami PPU FS dalam pelaksanaan PKPT tahun ini adalah Penanggung Jawab Lapangan (PL) FS acara PKPT 2014 yang tidak mendapatkan konsumsi karena konsumsi yang disediakan terbatas. “Konsumsinya dikasih soto. Tapi, untuk konsumsi PL yang disediakan di belakang panggung sudah habis sekitar jam sembilan pagi. Jadi, banyak yang tidak kebagian konsumsi PL,” ujar Andika. 

Di hari kedua pelaksanaan PKPT, Kamis (14/8) terdapat beberapa kendala di FS, namun tidak sampai mengganggu kelancaran keseluruhan acara PKPT. Banyak Maba dari fakultas lain datang ke FS. “Tadi Maba FE dan Maba FIP banyak yang malah datang di acara PKPT FS,” tutur Andika. Selain itu PPU FS juga merasa tidak bisa menindak tegas Maba yang tidak mengikuti aturan yang telah diberikan oleh pihak Universitas karena terdapat berbagai peraturan yang membatasi PPU FS untuk melakukan tindakan seperti berbicara keras kepada Maba yang melanggar aturan. “Kami tidak boleh menindak secara berlebihan ke Maba yang melanggar. Kami cuma bisa memberi teguran dan memberi sanksi seperti merangkum materi yang ditinggalkan Maba yang datangnya terlambat,” imbuh Dianita Kusuma selaku ketua pelaksana PKPT FS. Namun, secara keseluruhan acara PKPT FS hari ini dan kemarin berjalan lancar. (ima/adt//yna)

*buletin hal.11. terbit edisi 16 Agustus 2014

Comments

Popular posts from this blog

Menang Tanpa Perang

 Oleh: Fajar Dwi Affanndhi Pesta tak lagi meriah. Tidak seperti pesta yang biasa kita ketahui, hingar bingar, penuh warna-warni, dan dinanti-nanti. Pesta demokrasi di kampus ini sepi. Jangan harap perdebatan panas antar calon pemimpin. Ketika calonnya saja hanya satu. Ya, calon tunggal   tanpa lawan. Pemilu Raya, atau yang biasa kita sebut PEMIRA, kini seakan hilang greget -nya. Hampir di semua fakultas di UM terdapat calon tunggal.   Baik itu calon ketua BEM, ketua HMJ, atau bahkan yang lebih parah, calon DMF yang seharusnya dipilih lima orang dari setiap jurusan, malah hanya ada satu calon dalam satu fakultas yang notabene terdiri dari beberapa jurusan. Padahal, adanya calon tunggal bukan tidak mungkin yang terjadi mereka bakal   “menang tanpa perang”.  

Pemira FIS Ternodai

Indikasi Pemalsuan Syarat Pencalonan di HMJ Geografi Rabu (25/11) – Ketua Komisi Pemilihan Fakultas Ilmu Sosial (KPFIS), Junaidi, mengatakan   bahwa terjadi beberapa permasalahan pada serangkaian kegiatan Pemilihan Raya (Pemira) FIS. Salah satunya adalah i ndikasi pemanipulasian sertifikat ospek jurusan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Geografi (HMJ Volcano) untuk wakil calon nomor 1, Rezra. ”Ada ketidakterimaan dari beberapa mahasiswa mengenai salah satu calon, gara-gara ada salah satu calon yang persyaratanya nggak tepat, menurut mereka. Contohnya sertifikat mbak, menurut sang pelapor itu palsu”, ujar Subur selaku Ketua KPFIS.

Partai Politik dan Pemilu, Kaderisasi dan Permainan Sepak Bola Oleh Ahlam Aliatul Rahma

Tahun 2014 memang tahun yang panas. Tahun politik katanya. Pesta demokrasi yang bakalan diselenggarakan, kini sudah di depan mata. Menggairahkan namun juga mengkhawatirkan. Apalagi, pemilihan umum untuk legislatif kini sudah dilaksanakan. Satu tahap sudah terlampaui. Namun kita belum menginjak fase klimaksnya. Fase klimaks dari ketegangan yang sudah tercipta jauh-jauh hari sebelumnya. Penentuan RI-1 pada Agustus mendatang.             Bagaimana tidak menarik kawan. Calon-calon presiden yang ada sungguh berbeda dari pemilihan umum (pemilu) tahun-tahun sebelumnya. Dari golongan muda, nampang beberapa nama yang termasuk baru dalam kancah perpolitikan bangsa, misalnya saja Anies Baswedan, Hari Tanoe Sodibyo, Chairul Tanjung, dan tokoh paling populer saat ini, siapa lagi kalau bukan Jokowi. Namun masih banyak juga tokoh-tokoh dari golongan tua yang diprediksi akan mencalonkan diri menjadi presiden Republik ini. Yang tentunya mereka ...