Skip to main content

FS Gembleng Mental Maba lewat Student Day


Senin (19/8) Pengenalan Kehidupan Perguruan Tinggi (PKPT) tahun ini memang agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya banyak peraturan yang berubah. Panitia PKPT Fakultas Sastra juga merubah konsep yang sudah jadi sebelumnya. Panitia PKPT yang terdiri dari BEMFA dan HMJ sudah membuat konsep PKPT sama seperti PKPT tahun sebelumnya, namun mengalami perubahan konsep pada awal Juli setelah Surat Keterangan (SK) Rektor turun. “
prediksi saya, keluaran mahasiswa tahun kemarin (2011-red) lebih baik dari tahun sekarang. Karena tahun sekarang PKPT-nya lebih berbasis akademik (di dalam kelas), panitianya juga tidak masuk dalam mengkondisikan, menertibkan, dan mendisiplinkan Mahasiswa Baru (Maba). Padahal ketika masuk perguruan tinggi, perlu mental yang kuat dan kemandirian. Kan beda ketika masih di SMA, apa-apa masih sama orang tua. Kalau sudah masuk di dunia kampus kan harus mandiri. Nah disinilah kelemahan PKPT tahun sekarang, yang hanya berbasiskan akademik.” Tutur Etis selaku ketua pelaksana PKPT 2013.

            Selama 4 hari PKPT,  panitia juga tidak boleh membebani Maba dengan barang bawaan. Sedangkan waktu PKPT juga dibatasi hanya 7 jam. Jam 7.00 WIB dimulai dan diakhiri jam 13.00 WIB. Menurut Etis, pihaknya juga sudah mengadakan perundingan dengan pihak Rektorat, meminta agar pelaksanaan PKPT tahun ini sama dengan PKPT tahun lalu. Namun, permintaan tersebut tidak disetujui dan pihak rektorat memberikan kebijakan satu hari untuk BEMFA bisa mengadakan Student Day. “ Student Day itu yang handle panitianya Mbak, jadi bebas mau ngadain acara, terserah panitianya tapi harus menyerahkan konsepnya dulu ke pihak fakultas.” ungkap ketupel PKPT 2013.

Jumlah panitia Student Day pun lebih banyak dibandingkan PKPT. Panitia PKPT hanya 28 orang dari BEMFA  sedangkan panitia Student Day kurang lebih 125 orang dari semua personil BEMFA dan HMJ. Acara Student Day sengaja dibuat berbeda dari PKPT supaya lebih berkesan.” Student Day ini adalah sebuah inovasi dari BEMFA Sastra dengan tujuan untuk membandingkan lebih berkesanan mana antara PKPT yang dikelola pihak Fakultas dengan PKPT yang dikelola pihak ORMAWA (OrganisasiMahasiswa). ”ungkap Fiki selaku Humas PKPT 2013.

“Kalau tahun kemarin kan ada pengenalan ORMAWA, di Student Day ini diringkas menjadi sehari, pengenalan ORMAWA sekaligus penggemblengan mental.” Tambah Fiki.(myd//den/vga)

*buletin halaman 4. Tanggal terbit 20 Agustus 2013


            

Comments

Popular posts from this blog

Menang Tanpa Perang

 Oleh: Fajar Dwi Affanndhi Pesta tak lagi meriah. Tidak seperti pesta yang biasa kita ketahui, hingar bingar, penuh warna-warni, dan dinanti-nanti. Pesta demokrasi di kampus ini sepi. Jangan harap perdebatan panas antar calon pemimpin. Ketika calonnya saja hanya satu. Ya, calon tunggal   tanpa lawan. Pemilu Raya, atau yang biasa kita sebut PEMIRA, kini seakan hilang greget -nya. Hampir di semua fakultas di UM terdapat calon tunggal.   Baik itu calon ketua BEM, ketua HMJ, atau bahkan yang lebih parah, calon DMF yang seharusnya dipilih lima orang dari setiap jurusan, malah hanya ada satu calon dalam satu fakultas yang notabene terdiri dari beberapa jurusan. Padahal, adanya calon tunggal bukan tidak mungkin yang terjadi mereka bakal   “menang tanpa perang”.  

Pemira FIS Ternodai

Indikasi Pemalsuan Syarat Pencalonan di HMJ Geografi Rabu (25/11) – Ketua Komisi Pemilihan Fakultas Ilmu Sosial (KPFIS), Junaidi, mengatakan   bahwa terjadi beberapa permasalahan pada serangkaian kegiatan Pemilihan Raya (Pemira) FIS. Salah satunya adalah i ndikasi pemanipulasian sertifikat ospek jurusan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Geografi (HMJ Volcano) untuk wakil calon nomor 1, Rezra. ”Ada ketidakterimaan dari beberapa mahasiswa mengenai salah satu calon, gara-gara ada salah satu calon yang persyaratanya nggak tepat, menurut mereka. Contohnya sertifikat mbak, menurut sang pelapor itu palsu”, ujar Subur selaku Ketua KPFIS.

Partai Politik dan Pemilu, Kaderisasi dan Permainan Sepak Bola Oleh Ahlam Aliatul Rahma

Tahun 2014 memang tahun yang panas. Tahun politik katanya. Pesta demokrasi yang bakalan diselenggarakan, kini sudah di depan mata. Menggairahkan namun juga mengkhawatirkan. Apalagi, pemilihan umum untuk legislatif kini sudah dilaksanakan. Satu tahap sudah terlampaui. Namun kita belum menginjak fase klimaksnya. Fase klimaks dari ketegangan yang sudah tercipta jauh-jauh hari sebelumnya. Penentuan RI-1 pada Agustus mendatang.             Bagaimana tidak menarik kawan. Calon-calon presiden yang ada sungguh berbeda dari pemilihan umum (pemilu) tahun-tahun sebelumnya. Dari golongan muda, nampang beberapa nama yang termasuk baru dalam kancah perpolitikan bangsa, misalnya saja Anies Baswedan, Hari Tanoe Sodibyo, Chairul Tanjung, dan tokoh paling populer saat ini, siapa lagi kalau bukan Jokowi. Namun masih banyak juga tokoh-tokoh dari golongan tua yang diprediksi akan mencalonkan diri menjadi presiden Republik ini. Yang tentunya mereka ...