Skip to main content

WPFD: Refleksi Masalah Kebebasan Pers



WPFD: Refleksi Masalah Kebebasan Pers

Picture by: Khoyrudin/Kavling10
 Jurnalis Malang melakukan aksi dengan berbagai atribut di depan Balai Kota Malang


Malang, (3/5) Aliansi Jurnalis Malang Raya mengadakan aksi World Press Freedom Day (WPFD) Kota Malang dalam rangka memperingati hari kebebasan pers dunia. Aksi ini diadakan di depan Balai Kota Malang dan dihadiri oleh lima organisasi pers Kota Malang yaitu Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Pewarta Foto Indonesia (PFI), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dan Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI).

Peserta aksi mengenakan baju hitam dengan membawa poster, stiker dan bunga. Mereka melakukan orasi, penggalangan tandatangan, serta membagikan stiker dan bunga kepada polisi dan pengguna jalan. Ada tiga tema besar yang diangkat dalam aksi ini yaitu melawan hoax yang  telah meresahkan masyarakat dan jurnalis, indepensi media dan jurnalis, serta kekerasan terhadap jurnalis.

“Tahun 2016 ada 71 kasus kekerasan terhadap jurnalis di seluruh Indonesia dan ada 8 kasus pembunuhan jurnalis yang hingg kini belum selesai,” ungkap Hayu Yuda Prabowo, anggota PFI Malang.

Selain itu, dalam kegiatan ini Pers Mahasiswa (Persma) menyuarakan tiga hal. Pertama, menuntut represifitas dan intimidasi terhadap Persma. “Kebanyakan kasus yang dialami adalah intimidasi dari birokrat, seharusnya mereka paham bahwa Persma mempunyai hak untuk berpendapat,” ucap Imam Abu Hanifah, Koordinator Divisi Advokasi PPMI Nasional. Kedua, adanya keterbukaan informasi publik. Persma acap kali mengalami kesulitan dalam proses pencarian data. “Keterbukaan informasi wajib dilakukan oleh semua instansi pemerintah atau publik, hal ini sesuai dengan Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP),” tutur pria yang akrab disapa Icil ini.  Ketiga, perjuangan legalitas karena Persma tidak dilindungi oleh apapun. “Hal ini membuat Persma kesulitan ketika terjadi masalah,” kata Rifatul Ulya, anggota PPMI Malang. (ynn//hna)

Comments

Popular posts from this blog

Feminisme & Ambiguitas Kesetaraan Hak Perempuan: Perempuan Bukan Warga Kasta Kedua yang Lemah

Feminisme & Ambiguitas Kesetaraan Hak Perempuan: Perempuan Bukan Warga Kasta  Kedua yang Lemah Ardiana Putri*   Picture by: voa_islam.com  Berbicara mengenai perempuan dan feminisme memang selalu menarik, menggelitik, dan penuh intrik. Menarik, karena hal ini selalu menjadi bahan perbincangan bahkan seiring berkembangnya zaman, gerakan-gerakan pemberdayaan perempuan semakin merebak. Menggelitik dan penuh intrik, buktinya hingga saat ini masih banyak silang sengketa pendapat dan perdebatan mengenai pemikiran feminis itu sendiri.   Banyak persepsi yang menyatakan bahwa feminisme adalah datang dari barat. Tuduhan tersebut sama sekali tidak bertendensi. F eminisme d apat dikatakan lahir di Indonesia, karena sejak lama telah ada budaya di Indonesia yang menghargai perempuan. Jauh sebelum adanya zaman kolonial, masyarakat Indonesia sangat menghargai kesetaraan. Buktinya, banyak perempuan yang menjadi pahlawan nasional dan t id ak sedikit...

Menang Tanpa Perang

 Oleh: Fajar Dwi Affanndhi Pesta tak lagi meriah. Tidak seperti pesta yang biasa kita ketahui, hingar bingar, penuh warna-warni, dan dinanti-nanti. Pesta demokrasi di kampus ini sepi. Jangan harap perdebatan panas antar calon pemimpin. Ketika calonnya saja hanya satu. Ya, calon tunggal   tanpa lawan. Pemilu Raya, atau yang biasa kita sebut PEMIRA, kini seakan hilang greget -nya. Hampir di semua fakultas di UM terdapat calon tunggal.   Baik itu calon ketua BEM, ketua HMJ, atau bahkan yang lebih parah, calon DMF yang seharusnya dipilih lima orang dari setiap jurusan, malah hanya ada satu calon dalam satu fakultas yang notabene terdiri dari beberapa jurusan. Padahal, adanya calon tunggal bukan tidak mungkin yang terjadi mereka bakal   “menang tanpa perang”.  

Jagal Despotik

Jagal Despotik *Ardiana Putri  Picture by:rdifm.co.id     Kami rakyat, masih melarat! Napas sesak, keparat! Hingga berulam air mata menghujam sesak di dada Bercucuran anyir darah, pada bahu-bahu jelata. Mari kita telisik lebih jeli  Diskriminasi Intimidasi Hentikan semua ini Buruh bersatu melawan penindasan Buruh bersatu tak bisa dikalahkan Berbagai konflik merajai pertiwi,  seakan terbungkam mulut-mulut borjuasi. Tanah harusnya milik rakyat  bukan investor biadab yang melaknat Berbagai muslihat dilancarkan,  kepada: yang melarat! Melarat! Melarat! Ah, dasar despotik! Seperti kata Wiji yang termaktub dalam hati "Maka hanya ada satu kata: lawan!" * Penulis adalah Pegiat Lembaga Pers Mahasiswa Siar UKMP UM