Skip to main content

Jagal Despotik

Jagal Despotik
*Ardiana Putri 
Picture by:rdifm.co.id
  
Kami rakyat, masih melarat!
Napas sesak, keparat!

Hingga berulam air mata menghujam sesak di dada

Bercucuran anyir darah, pada bahu-bahu jelata.

Mari kita telisik lebih jeli 
Diskriminasi
Intimidasi
Hentikan semua ini

Buruh bersatu melawan penindasan
Buruh bersatu tak bisa dikalahkan

Berbagai konflik merajai pertiwi, 
seakan terbungkam mulut-mulut borjuasi.

Tanah harusnya milik rakyat 
bukan investor biadab yang melaknat

Berbagai muslihat dilancarkan, 
kepada: yang melarat! Melarat! Melarat!

Ah, dasar despotik!

Seperti kata Wiji yang termaktub dalam hati
"Maka hanya ada satu kata: lawan!"

*Penulis adalah Pegiat Lembaga Pers Mahasiswa Siar UKMP UM



Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Menang Tanpa Perang

 Oleh: Fajar Dwi Affanndhi Pesta tak lagi meriah. Tidak seperti pesta yang biasa kita ketahui, hingar bingar, penuh warna-warni, dan dinanti-nanti. Pesta demokrasi di kampus ini sepi. Jangan harap perdebatan panas antar calon pemimpin. Ketika calonnya saja hanya satu. Ya, calon tunggal   tanpa lawan. Pemilu Raya, atau yang biasa kita sebut PEMIRA, kini seakan hilang greget -nya. Hampir di semua fakultas di UM terdapat calon tunggal.   Baik itu calon ketua BEM, ketua HMJ, atau bahkan yang lebih parah, calon DMF yang seharusnya dipilih lima orang dari setiap jurusan, malah hanya ada satu calon dalam satu fakultas yang notabene terdiri dari beberapa jurusan. Padahal, adanya calon tunggal bukan tidak mungkin yang terjadi mereka bakal   “menang tanpa perang”.  

Pemuda Dalam Pergolakan Politik Nasional

Picture by: Qureta.com Pemuda   Dalam   Pergolakan   Politik   Nasional *Randi Muchariman Mari   kita memulainya dengan   sebuah cerita.   Tentang seorang pemuda yang resah dengan kehidupan petani yang setiap hari bekerja namun ia tidak mendapatkan hasil yang setara dengan yang telah dikerjakannya karena lahan yang digarapnya bukan milik dirinya sendiri.   Pemuda itu terus hidup dan melalui berbagai peristiwa dengan keresahannya. Ia membangun gagasan dan narasi bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk bangsanya. Ia memiliki kecintaan terhadap rakyat dan bangsa yang sedang dibangunnya. Sehingga ia sampai hati harus menyatakan bahwa andaikata harus bekerjasama dengan iblis untuk memerdekakan bangsanya, maka itu akan dilakukannya.