Skip to main content

Hidup Buruh ! Hidup Mahasiswa ! Hidup Rakyat Miskin Kota !



Hidup Buruh ! Hidup Mahasiswa ! Hidup Rakyat Miskin Kota !

Picture by: Yunani

Sekretariat Bersama (Sekber) Mayday 2017 Kota Malang, Senin (1/5) mengadakan aksi Panggung Rakyat dengan tema “Mayday sebagai Momentum Bangkitnya Hari Buruh” memperingati Hari Buruh Internasional. 

Novada, anggota Sekber Mayday 2017 kota Malang menjelaskan bahwa alun-alun kota Malang dipilih sebagai lokasi acara ini karena ramai dan masyarakat umum dapat melihat bahkan bersimpati terhadap buruh. “Aksi ini tidak dilakukan di balai kota (balkot) karena akan menggangu lalu lintas, selain itu balkot digunakan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI). Hal ini juga dilakukan untuk menjaga independensi,” tutur Novada.

Aksi peringatan Mayday ini  ramai dihadiri berbagai golongan diantaranya, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, buruh, dan warga lokal. Buruh yang menghadiri aksi ini dinaungi Solidaritas Perjuangan Buruh Indonesia (SPBI). Selain buruh aksi ini juga diikuti oleh mantan buruh, hal ini dilakukan untuk membela kaum buruh. Aksi ini menampilkan Iksan skuter, teatrikal, musikalisasi puisi, orasi politik, dan monolog. Di sela-sela acara lagu Indonesia raya, buruh tani, dan darah juang dinyanyikan.

Novanda menjelaskan bahwa tujuan diadakannya aksi ini untuk menarik simpati masyarakat dan masyarakat diharap memahami keadaan buruh yang sebenarnya. Selain itu, aksi ini pun bertujuan untuk edukasi, memberikan pemahaman, dan kesadaran pada masyarakat.

Aksi ini menuntut empat isu pokok, yaitu cabut Peraturan Pemerintah nomor 78 tahun 2015, tolak sistem kerja outsourching dan kontrak, tolak Pemutusan Hubungan Kerja, serta tolak upah murah. Fakta menunjukkan bahwa kasus-kasus pelanggaran terhadap buruh masih terjadi hingga sekarang. Diketahui bahwa Upah Minimum Regional (UMR) kota Malang sebesar Rp 2.272.160,50, Kabupaten Malang Rp 2.368.510,00, sedangkan di kota Batu sebesar Rp 2.193.145,00, namun masih banyak buruh yang menerima gaji kurang dari UMR tersebut. “Misalnya, kasus Hotel Trio Indah, mereka menggaji pekerja yang sudah bekerja selama 30 tahun hanya sebesar 800 ribu perbulan”, jelas Novanto.

Aksi ini memiliki harapan yang besar tentang adanya perubahan. Saiful, mantan buruh mengungkapkan, “Harapannya pemerintah melindungi hak pekerja dan perusahaan mematuhi aturan yang telah ditetapkan”. Harapan serupa diungkapkan oleh Sri, buruh yang tergabung dalam SPBI, “Semoga nasib buruh lebih baik, outsourscing dan kerja kontrak dihapus” tuturnya. (fdn/ynn//bia).

Comments

Popular posts from this blog

Feminisme & Ambiguitas Kesetaraan Hak Perempuan: Perempuan Bukan Warga Kasta Kedua yang Lemah

Feminisme & Ambiguitas Kesetaraan Hak Perempuan: Perempuan Bukan Warga Kasta  Kedua yang Lemah Ardiana Putri*   Picture by: voa_islam.com  Berbicara mengenai perempuan dan feminisme memang selalu menarik, menggelitik, dan penuh intrik. Menarik, karena hal ini selalu menjadi bahan perbincangan bahkan seiring berkembangnya zaman, gerakan-gerakan pemberdayaan perempuan semakin merebak. Menggelitik dan penuh intrik, buktinya hingga saat ini masih banyak silang sengketa pendapat dan perdebatan mengenai pemikiran feminis itu sendiri.   Banyak persepsi yang menyatakan bahwa feminisme adalah datang dari barat. Tuduhan tersebut sama sekali tidak bertendensi. F eminisme d apat dikatakan lahir di Indonesia, karena sejak lama telah ada budaya di Indonesia yang menghargai perempuan. Jauh sebelum adanya zaman kolonial, masyarakat Indonesia sangat menghargai kesetaraan. Buktinya, banyak perempuan yang menjadi pahlawan nasional dan t id ak sedikit...

Menang Tanpa Perang

 Oleh: Fajar Dwi Affanndhi Pesta tak lagi meriah. Tidak seperti pesta yang biasa kita ketahui, hingar bingar, penuh warna-warni, dan dinanti-nanti. Pesta demokrasi di kampus ini sepi. Jangan harap perdebatan panas antar calon pemimpin. Ketika calonnya saja hanya satu. Ya, calon tunggal   tanpa lawan. Pemilu Raya, atau yang biasa kita sebut PEMIRA, kini seakan hilang greget -nya. Hampir di semua fakultas di UM terdapat calon tunggal.   Baik itu calon ketua BEM, ketua HMJ, atau bahkan yang lebih parah, calon DMF yang seharusnya dipilih lima orang dari setiap jurusan, malah hanya ada satu calon dalam satu fakultas yang notabene terdiri dari beberapa jurusan. Padahal, adanya calon tunggal bukan tidak mungkin yang terjadi mereka bakal   “menang tanpa perang”.  

Jagal Despotik

Jagal Despotik *Ardiana Putri  Picture by:rdifm.co.id     Kami rakyat, masih melarat! Napas sesak, keparat! Hingga berulam air mata menghujam sesak di dada Bercucuran anyir darah, pada bahu-bahu jelata. Mari kita telisik lebih jeli  Diskriminasi Intimidasi Hentikan semua ini Buruh bersatu melawan penindasan Buruh bersatu tak bisa dikalahkan Berbagai konflik merajai pertiwi,  seakan terbungkam mulut-mulut borjuasi. Tanah harusnya milik rakyat  bukan investor biadab yang melaknat Berbagai muslihat dilancarkan,  kepada: yang melarat! Melarat! Melarat! Ah, dasar despotik! Seperti kata Wiji yang termaktub dalam hati "Maka hanya ada satu kata: lawan!" * Penulis adalah Pegiat Lembaga Pers Mahasiswa Siar UKMP UM