Skip to main content

Bertuhankan Agama

Bertuhankan Agama
*Oleh Hana Anggita
 
Pinture by: rheydaayoe 

Hanif : Dzikir dan Pikir adalah sebuah buku yang ditulis oleh Reza Nufa. Dia adalah seorang mahasiswa di Jurusan Perbankan Syariah, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Reza Nufa menulis dalam buku ini  berbagai isu sosial, agama, cinta, dan juga indahnya persahabatan dengan kritis. Penulis muda ini menuturkan pergulatan pemikiran akidah dan syariat dari persepsi kaum santri moderat dengan jernih. Kritik yang dilontarkannya cerdas, diiringi dengan penjelasan solusi yang baik.

Buku ini berkisah tentang seseorang bernama Hanif yang tinggal di Jakarta, terlibat dalam pergaulan akrab, meskipun teman-temannya berasal dari latar belakang yang berbeda. Kisah pergaulannya nampaknya ideal untuk generasi sekarang yakni, akrab tanpa asmara dan tidak hedonis, melainkan hanya lingkungan kampus, perpustakaan, dan kostan. Selain itu, mereka juga disibukkan dengan diskusi ringan mengenai agama dan cara beragama masyarakat yang menurut mereka harus dikoreksi. Hanif merupakan idola dari teman–temannya. Sebagai tokoh yang memiliki watak rasionalis dan idealis, dia tak luput dari tradisi percaya pada hal–hal yang berbau mistik. Dia rindu akan makrifat beragama yang membawa umatnya bersikap arif dan bermanfaat bagi kehidupan sesama. Di akhir kisah, diceritakan bahwa Hanif mengembara tidak karuan. Dia sempat menginap pada seorang kiai yang bernama Yanto di Jawa Timur, hingga dia menemukan makna hidup yang diyakininya.

Kisah Hanif merupakan ekspresi dari ketidakpuasan seorang penganut agama, ketika menyaksikan kesalahpahaman masyarakat dalam menghayati dan mengamalkan agama. Kini masyarakat seolah-olah bertuhankan agamanya, bukan Tuhan Yang Maha Esa. Menurutnya pemuka agama seharusnya tidak cukup mengajarkan peribadahan yang bersifat ritual saja, melainkan juga menjadi jawaban atas sejumlah persoalan akhlak yang mendera umat. Beragama tidak harus ditunaikan dengan keseragaman praktik ibadah hingga menimbulkan konflik sesama.

Buku ini menceritakan kisah yang sangat apik untuk disimak. Pembaca diajak untuk berpikir kritis dalam menanggapi berbagai macam isu sosial dan aspek kehidupan yang tidak mengesampingkan aspek agama, khususnya Agama Islam. Agama seharusnya menjadi solusi dari begitu banyak persoalan obyektif duniawi, sehingga agama bukan hanya jalan menuju surga saja, tetapi juga menjadi pencipta surga kedamaian dan kemakmuran di alam realitas kekinian. Inilah yang membuat buku ini layak untuk dibaca, terutama di negeri yang penuh dengan perbedaan ini, agar kita semua bisa sedikit belajar cara menyikapi perbedaan dengan arif.

*Penulis adalah pegiat LPM Siar UKMP UM

Comments

Popular posts from this blog

Menang Tanpa Perang

 Oleh: Fajar Dwi Affanndhi Pesta tak lagi meriah. Tidak seperti pesta yang biasa kita ketahui, hingar bingar, penuh warna-warni, dan dinanti-nanti. Pesta demokrasi di kampus ini sepi. Jangan harap perdebatan panas antar calon pemimpin. Ketika calonnya saja hanya satu. Ya, calon tunggal   tanpa lawan. Pemilu Raya, atau yang biasa kita sebut PEMIRA, kini seakan hilang greget -nya. Hampir di semua fakultas di UM terdapat calon tunggal.   Baik itu calon ketua BEM, ketua HMJ, atau bahkan yang lebih parah, calon DMF yang seharusnya dipilih lima orang dari setiap jurusan, malah hanya ada satu calon dalam satu fakultas yang notabene terdiri dari beberapa jurusan. Padahal, adanya calon tunggal bukan tidak mungkin yang terjadi mereka bakal   “menang tanpa perang”.  

Pemuda Dalam Pergolakan Politik Nasional

Picture by: Qureta.com Pemuda   Dalam   Pergolakan   Politik   Nasional *Randi Muchariman Mari   kita memulainya dengan   sebuah cerita.   Tentang seorang pemuda yang resah dengan kehidupan petani yang setiap hari bekerja namun ia tidak mendapatkan hasil yang setara dengan yang telah dikerjakannya karena lahan yang digarapnya bukan milik dirinya sendiri.   Pemuda itu terus hidup dan melalui berbagai peristiwa dengan keresahannya. Ia membangun gagasan dan narasi bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk bangsanya. Ia memiliki kecintaan terhadap rakyat dan bangsa yang sedang dibangunnya. Sehingga ia sampai hati harus menyatakan bahwa andaikata harus bekerjasama dengan iblis untuk memerdekakan bangsanya, maka itu akan dilakukannya.