Skip to main content

Pernyataan Narasumber Ditulis Berbeda, Begini Tanggapan Rektorat

Pernyataan Narasumber Ditulis Berbeda, Begini Tanggapan Rektorat
 
Senin (6/3) diadakan Sarasehan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) UM dengan tema "Unggul Berkarya, Rujukan Dunia" di Aula gedung A3 Universitas Negeri Malang (UM). Acara ini diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis (UKMP) dan bertujuan untuk meningkatkan hubungan antar Ormawa UM serta wahana edukasi menjadikan kampus sebagai rujukan dunia melalui organisasi.

Sarasehan ini menghadirkan tiga pemateri, yakni Dr. Sakban Rosidi,  M. Si,  Drs.  Ismail Luthfi,  M. A, dan Ahmad Fahmi, S. T,  M. T. Selain itu, turut hadir pula Tri Purnawati, Lurah Forum Komunikasi (FK) UKM UM dan Khoirul Fatihin, Presiden Mahasiswa (Presma) UM.

Kegiatan tersebut dibagi menjadi tiga termin. Termin awal, penyampaian materi oleh ketiga narasumber, yakni kiat-kiat menjadikan UM sebagai kampus yang unggul dalam berkarya melalui kegiatan-kegiatan yang ada di organisasi. Termin kedua, dilanjutkan dengan curah pendapat oleh Lurah FK UKM dan juga Presma UM.

Pada sesi ini Ibu Lurah, sapaan akrab Ketua FK UKM, memaparkan bahwa terdapat kekeliuran pada berita yang dimuat Malang Post terkait jam malam.  Berita dengan judul "Ruang UKM Bukan Tempat Menginap" yang dirilis pada Sabtu, (25/2) Halaman 4, kolom EDUPOLITAN tidak sesuai dengan hasil wawancara yang sebenarnya. Salah satu narasumber yang bernama Edo Ridwan menyatakan dukungannya terkait jam malam karena dengan adanya peraturan ini, ia dapat menyelesaikan skripsinya. Namun, setelah ditelusuri, anggota dari UKM Unit Aktivitas Sepak Bola (UASB) ini diperoleh pernyataan yang berbeda.  

Edo mengatakan saat dirinya diwawancarai oleh wartawan Malang Post, ia menyatakan keberatan dengan adanya jam malam karena peraturan tersebut membuatnya kesulitan untuk akses masuk UM di malam hari, padahal latihan sepak bola sering dilakukan hingga malam. Selain itu, Edo bukanlah mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi karena ia merupakan mahasiswa semester enam. Di samping itu, Edo juga menyatakan bahwa nama lengkapnya bukanlah Edo Ridwan.

Menanggapi tentang keluhan jam malam, Ahmad Fahmi, staff ahli Wakil Rektor III mengatakan bahwa adanya jam malam ini, agar UKM tidak dijadikan tempat bermukim karena banyak ditemukan alumni yang telah bertahun-tahun lulus dari UM, namun tetap tinggal di kesekretariatan UKM. Selain itu, Fahmi juga mengutarakan bahwa tidak ada pelarangan untuk kegiatan di malam hari asal ada surat izin yang jelas. Pihak birokrat juga tidak akan mempersulit perizinan karena akan selalu mendukung mahasiswa yang berkegiatan positif. (bia//hna)

Comments

Popular posts from this blog

Feminisme & Ambiguitas Kesetaraan Hak Perempuan: Perempuan Bukan Warga Kasta Kedua yang Lemah

Feminisme & Ambiguitas Kesetaraan Hak Perempuan: Perempuan Bukan Warga Kasta  Kedua yang Lemah Ardiana Putri*   Picture by: voa_islam.com  Berbicara mengenai perempuan dan feminisme memang selalu menarik, menggelitik, dan penuh intrik. Menarik, karena hal ini selalu menjadi bahan perbincangan bahkan seiring berkembangnya zaman, gerakan-gerakan pemberdayaan perempuan semakin merebak. Menggelitik dan penuh intrik, buktinya hingga saat ini masih banyak silang sengketa pendapat dan perdebatan mengenai pemikiran feminis itu sendiri.   Banyak persepsi yang menyatakan bahwa feminisme adalah datang dari barat. Tuduhan tersebut sama sekali tidak bertendensi. F eminisme d apat dikatakan lahir di Indonesia, karena sejak lama telah ada budaya di Indonesia yang menghargai perempuan. Jauh sebelum adanya zaman kolonial, masyarakat Indonesia sangat menghargai kesetaraan. Buktinya, banyak perempuan yang menjadi pahlawan nasional dan t id ak sedikit...

Menang Tanpa Perang

 Oleh: Fajar Dwi Affanndhi Pesta tak lagi meriah. Tidak seperti pesta yang biasa kita ketahui, hingar bingar, penuh warna-warni, dan dinanti-nanti. Pesta demokrasi di kampus ini sepi. Jangan harap perdebatan panas antar calon pemimpin. Ketika calonnya saja hanya satu. Ya, calon tunggal   tanpa lawan. Pemilu Raya, atau yang biasa kita sebut PEMIRA, kini seakan hilang greget -nya. Hampir di semua fakultas di UM terdapat calon tunggal.   Baik itu calon ketua BEM, ketua HMJ, atau bahkan yang lebih parah, calon DMF yang seharusnya dipilih lima orang dari setiap jurusan, malah hanya ada satu calon dalam satu fakultas yang notabene terdiri dari beberapa jurusan. Padahal, adanya calon tunggal bukan tidak mungkin yang terjadi mereka bakal   “menang tanpa perang”.  

Apakah Pemira Kompetitif Selalu Berakhir Tidak Sportif?

Rabu, 11 november 2013 Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Malang (UM) melaksanakan PEMIRA FE UM 2014. Pemira tahun ini berbeda dengan tahun yang sebelumnya, yang terbukti dengan antusiasnya mahasiswa dalam mengikuti pemira ini. Banyak dari mereka yang berbondong-bondong ke tempat pemilihan untuk menyuarakan suara mereka sehingga pemira periode ini kesannya lebih “rame” jika dibandingkan dengan tahun lalu. Tidak hanya itu pemilihan saat ini juga bisa dibilang sangat kompetitif yang pada akhirnya terjadi ketidak sportifan karena terbukti dengan adanya permasalahan yang cukup kompleks yang terjadi selama masa kampanye dan juga pada saat hari H pemilihan.   Permasalahan yang pertama adalah muncul pada saat hari H pemilihan ada sebuah selebaran yang berisi tentang pelet dalam pemilu dan terlibatnya mahluk-mahluk gaib didalam pemira ini. Dalam selebaran yang berjudul “NYI PELET IKUT PEMILU?” tersebut berisi tentang ajakan agar mahasiswa lebih kritis dalam memilih pemimpin yang u...