Skip to main content

Muhadjir Curhat di Puncak Dies Natalis UM

Universitas Negeri Malang - Perayaan ulang tahun ke-62 tampak berbeda. Pada perayaan kali ini UM dihadiri oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi yang notabene merupakan jebolan dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang (IKIP Malang) yang kini berubah menjadi UM. Dalam orasinya, Menteri Muhadjir sedikit mengenang masa-masa kuliahnya di IKIP. Ia menuturkan, “Saya sempat ditolak ketika masuk IKIP melalui program doctoral dulu, saya harus menempuh pendidikan sarjana muda terlebih dahulu. Pernah saya sampai mengambil 30 SKS dan kuliah penuh dari jam tujuh pagi sampai jam sembilan malam”. Ia juga sempat menyinggung mengenai rencana mengenai fullday school yang mendapat bullying dari masyarakat.

“Kalau saya membahas fullday school lagi, nanti saya malah dibully,” celotehnya. (bia/ida//yrz)

Comments

Popular posts from this blog

Menang Tanpa Perang

 Oleh: Fajar Dwi Affanndhi Pesta tak lagi meriah. Tidak seperti pesta yang biasa kita ketahui, hingar bingar, penuh warna-warni, dan dinanti-nanti. Pesta demokrasi di kampus ini sepi. Jangan harap perdebatan panas antar calon pemimpin. Ketika calonnya saja hanya satu. Ya, calon tunggal   tanpa lawan. Pemilu Raya, atau yang biasa kita sebut PEMIRA, kini seakan hilang greget -nya. Hampir di semua fakultas di UM terdapat calon tunggal.   Baik itu calon ketua BEM, ketua HMJ, atau bahkan yang lebih parah, calon DMF yang seharusnya dipilih lima orang dari setiap jurusan, malah hanya ada satu calon dalam satu fakultas yang notabene terdiri dari beberapa jurusan. Padahal, adanya calon tunggal bukan tidak mungkin yang terjadi mereka bakal   “menang tanpa perang”.  

Pemuda Dalam Pergolakan Politik Nasional

Picture by: Qureta.com Pemuda   Dalam   Pergolakan   Politik   Nasional *Randi Muchariman Mari   kita memulainya dengan   sebuah cerita.   Tentang seorang pemuda yang resah dengan kehidupan petani yang setiap hari bekerja namun ia tidak mendapatkan hasil yang setara dengan yang telah dikerjakannya karena lahan yang digarapnya bukan milik dirinya sendiri.   Pemuda itu terus hidup dan melalui berbagai peristiwa dengan keresahannya. Ia membangun gagasan dan narasi bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk bangsanya. Ia memiliki kecintaan terhadap rakyat dan bangsa yang sedang dibangunnya. Sehingga ia sampai hati harus menyatakan bahwa andaikata harus bekerjasama dengan iblis untuk memerdekakan bangsanya, maka itu akan dilakukannya.