Ada yang berbeda dari konsep PKKMB Fakultas
Ekonomi (FE). Tahun ini, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FE lebih persuasif
terhadap maba agar tidak menjadi mahasiswa “kupu-kupu” (kuliah-pulang kuliah-pulang).
Dengan tidak menjadi
mahasiswa yang hanya menimba ilmunya di kelas, lalu selanjutnya pulang ke rumah
atau ke kosnya masing-masing, maba FE tidak menjadi mahasiswa “kupu-kupu” melainkan menjadi maba
yang progresif. Akidatul Firmanullah,
anggota BEM FE devisi Koordinator Informasi dan Komunikasi (Kominfo) berpesan agar maba meningkatkan prestasi dalam segala bidang, memanfaat
fasilitas dan ruang yang tersedia, dengan permasalahan ini, BEM FE akan memberi
ruang dengan cara merekrut mereka
untuk mengikuti organisasi fakultas. Dirinya juga menambahkan bahwa konsep yang akan digunakan dalam PKKMB FE lebih fokus dalam perancangan maba menjadi lebih
menghasilkan output yang positif dengan cara pembagian mahasiswa menjadi
delapan kelompok. Hal ini bertujuan agar materi yang disampaikan dapat diserap
mahasiswa baru dengan lebih mudah. (fdn/rar//win)
Feminisme & Ambiguitas Kesetaraan Hak Perempuan: Perempuan Bukan Warga Kasta Kedua yang Lemah Ardiana Putri* Picture by: voa_islam.com Berbicara mengenai perempuan dan feminisme memang selalu menarik, menggelitik, dan penuh intrik. Menarik, karena hal ini selalu menjadi bahan perbincangan bahkan seiring berkembangnya zaman, gerakan-gerakan pemberdayaan perempuan semakin merebak. Menggelitik dan penuh intrik, buktinya hingga saat ini masih banyak silang sengketa pendapat dan perdebatan mengenai pemikiran feminis itu sendiri. Banyak persepsi yang menyatakan bahwa feminisme adalah datang dari barat. Tuduhan tersebut sama sekali tidak bertendensi. F eminisme d apat dikatakan lahir di Indonesia, karena sejak lama telah ada budaya di Indonesia yang menghargai perempuan. Jauh sebelum adanya zaman kolonial, masyarakat Indonesia sangat menghargai kesetaraan. Buktinya, banyak perempuan yang menjadi pahlawan nasional dan t id ak sedikit...
Comments
Post a Comment