Skip to main content

Hari Kedua PKKMB, 2 Maba dirujuk ke Poliklinik

PKKMB UM 2016 hari kedua ini diwarnai dengan dirujuknya 2 maba ke poliklinik UM. Alasannya, kedua maba ini mengalami sesak nafas. Tim kesehatan mengatakan bahwa kedua maba tersebut sudah memiliki riwayat penyakit. “Karena saya sudah punya bawaan penyakit asma dan tadi malam mengalami pilek dan batuk menyebabkan asma saya kambuh,” ungkap Zelya, salah satu maba yang dirujuk ke Poliklinik UM.

Penanganan pertama yang diberikan oleh Tim Kesehatan yakni dengan membawa maba ke luar ruangan untuk menenangkannya kemudian memberi Oxycan, oksigen botol. Namun, dikarenakan kondisi kedua maba tersebut belum membaik, tim kesehatan berinisiatif merujuk mereka ke poliklinik UM.  Penanganan yang diberikan di Poliklinik UM adalah dengan memasangkan tabung oksigen. Sesuai dengan saran petugas Poliklinik UM, kedua maba tersebut akhirnya dibiarkan beristirahat dan tidak kembali ke Graha Cakrawala untuk melanjutkan PKKMB UM 2016. (tri/lny//ana)


   

Comments

Popular posts from this blog

Menang Tanpa Perang

 Oleh: Fajar Dwi Affanndhi Pesta tak lagi meriah. Tidak seperti pesta yang biasa kita ketahui, hingar bingar, penuh warna-warni, dan dinanti-nanti. Pesta demokrasi di kampus ini sepi. Jangan harap perdebatan panas antar calon pemimpin. Ketika calonnya saja hanya satu. Ya, calon tunggal   tanpa lawan. Pemilu Raya, atau yang biasa kita sebut PEMIRA, kini seakan hilang greget -nya. Hampir di semua fakultas di UM terdapat calon tunggal.   Baik itu calon ketua BEM, ketua HMJ, atau bahkan yang lebih parah, calon DMF yang seharusnya dipilih lima orang dari setiap jurusan, malah hanya ada satu calon dalam satu fakultas yang notabene terdiri dari beberapa jurusan. Padahal, adanya calon tunggal bukan tidak mungkin yang terjadi mereka bakal   “menang tanpa perang”.  

Pemuda Dalam Pergolakan Politik Nasional

Picture by: Qureta.com Pemuda   Dalam   Pergolakan   Politik   Nasional *Randi Muchariman Mari   kita memulainya dengan   sebuah cerita.   Tentang seorang pemuda yang resah dengan kehidupan petani yang setiap hari bekerja namun ia tidak mendapatkan hasil yang setara dengan yang telah dikerjakannya karena lahan yang digarapnya bukan milik dirinya sendiri.   Pemuda itu terus hidup dan melalui berbagai peristiwa dengan keresahannya. Ia membangun gagasan dan narasi bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk bangsanya. Ia memiliki kecintaan terhadap rakyat dan bangsa yang sedang dibangunnya. Sehingga ia sampai hati harus menyatakan bahwa andaikata harus bekerjasama dengan iblis untuk memerdekakan bangsanya, maka itu akan dilakukannya.