Skip to main content

Atas Nama Keadilan


*Zainal Abidin 

www.artikelsiana.com

Dalam sesosok pikiran yang berpikir yang idealis
Engkau berdiri atas nama keadilan
Tertuang dengan tinta-tinta kegelapan dalam kertas lusuh demi perdamaian
Rasa damai yang berjubah dalam benteng kaum kapitalis...
kau lemah
saat mencoba berdiri pun kau hanya terbaring di atas tanah
Engkau Tak dapat berdiri dengan kedua kakimu
Hingga mengurai pertikaian dalam setiap detak palumu
Kau lumpuh dengan gambar nol lima
Saling menghunus demi masa birokrasi
Hukum yang dulu memaksa
Tapi tak mampu melihat dengan kedua mata
Hanya mengikat dengan tali usang nan lusuh dan rapuh
Hukum yang dulu buta
Kini memandang dengan sebelah mata
Karena kau telah terkurung dalam jurang perbudakan
Perbudakan yang tak lagi membebaskan kau dengan sebebas-bebasnya
Hukum yang “tegas”
Membuat rakyatmu tertindas lemas
Bak pisau yang runcing pada dasarnya
Bak pisau yang tumpul pada atapnya
Menindas habis semut-semut jelata
Menjunjung tinggi tikus-tikus berkuasa

*Pegiat LPM Siar, Jurusan Sejarah 2013

Comments

Popular posts from this blog

Menang Tanpa Perang

 Oleh: Fajar Dwi Affanndhi Pesta tak lagi meriah. Tidak seperti pesta yang biasa kita ketahui, hingar bingar, penuh warna-warni, dan dinanti-nanti. Pesta demokrasi di kampus ini sepi. Jangan harap perdebatan panas antar calon pemimpin. Ketika calonnya saja hanya satu. Ya, calon tunggal   tanpa lawan. Pemilu Raya, atau yang biasa kita sebut PEMIRA, kini seakan hilang greget -nya. Hampir di semua fakultas di UM terdapat calon tunggal.   Baik itu calon ketua BEM, ketua HMJ, atau bahkan yang lebih parah, calon DMF yang seharusnya dipilih lima orang dari setiap jurusan, malah hanya ada satu calon dalam satu fakultas yang notabene terdiri dari beberapa jurusan. Padahal, adanya calon tunggal bukan tidak mungkin yang terjadi mereka bakal   “menang tanpa perang”.  

Pemuda Dalam Pergolakan Politik Nasional

Picture by: Qureta.com Pemuda   Dalam   Pergolakan   Politik   Nasional *Randi Muchariman Mari   kita memulainya dengan   sebuah cerita.   Tentang seorang pemuda yang resah dengan kehidupan petani yang setiap hari bekerja namun ia tidak mendapatkan hasil yang setara dengan yang telah dikerjakannya karena lahan yang digarapnya bukan milik dirinya sendiri.   Pemuda itu terus hidup dan melalui berbagai peristiwa dengan keresahannya. Ia membangun gagasan dan narasi bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk bangsanya. Ia memiliki kecintaan terhadap rakyat dan bangsa yang sedang dibangunnya. Sehingga ia sampai hati harus menyatakan bahwa andaikata harus bekerjasama dengan iblis untuk memerdekakan bangsanya, maka itu akan dilakukannya.