Skip to main content

Sajak Untuk Agen Perubahan

 *Wika Nurma
Agen perubahan
Status yang dulu kau sandang
Akankah tetap bersemayam
Ataukah pudar ditelan zaman

Dulu
Kau gulingkan kursi tirani
dari tahtanya selama ini
Jas berlumur darah menjadi saksi
dari peristiwa reformasi

Kini
Kau bungkam suara terhadap realita
Mengasingkan diri dalam gemerlapnya dunia
Starbucks menjadi arena berargumentasi
untuk membahas fashion terkini
Senayan City tempat mencari inspirasi
Ketika hedonisme menghampiri
Permen kecil peningkat euforia menjadi teman bercanda
di saat depresi melanda

Tahukah kau?
Teriakan klakson dan deru mesin meraung
Menjadi irama klasik di negeri ini
Jeritan kelaparan anak jalanan
Menggema di setiap sudut ruangan
Tua-muda berkeliaran tak karuan
Menantang ketidakpastian hidup yang mereka perjuangkan
Cukong-cukong tertawa bahagia
Menikmati alam Indonesia
Petani kecil menangis meringis
Melihat ladangnya habis



Kau yang dulu dielu-elukan
Kini hanya menjadi bahan omongan
Lengamnu gamang untuk memecahkan persoalan
tentang carut-marut kehidupan

Bangunlah!
Jangan biarkan dirimu terjajah keadaan
Terkikis habis jiwa apatis
Melupakan berpikir kritis

*Pegiat LPM Siar, Jurusan Sastra Indonesia

Comments

Popular posts from this blog

Feminisme & Ambiguitas Kesetaraan Hak Perempuan: Perempuan Bukan Warga Kasta Kedua yang Lemah

Feminisme & Ambiguitas Kesetaraan Hak Perempuan: Perempuan Bukan Warga Kasta  Kedua yang Lemah Ardiana Putri*   Picture by: voa_islam.com  Berbicara mengenai perempuan dan feminisme memang selalu menarik, menggelitik, dan penuh intrik. Menarik, karena hal ini selalu menjadi bahan perbincangan bahkan seiring berkembangnya zaman, gerakan-gerakan pemberdayaan perempuan semakin merebak. Menggelitik dan penuh intrik, buktinya hingga saat ini masih banyak silang sengketa pendapat dan perdebatan mengenai pemikiran feminis itu sendiri.   Banyak persepsi yang menyatakan bahwa feminisme adalah datang dari barat. Tuduhan tersebut sama sekali tidak bertendensi. F eminisme d apat dikatakan lahir di Indonesia, karena sejak lama telah ada budaya di Indonesia yang menghargai perempuan. Jauh sebelum adanya zaman kolonial, masyarakat Indonesia sangat menghargai kesetaraan. Buktinya, banyak perempuan yang menjadi pahlawan nasional dan t id ak sedikit...

Menang Tanpa Perang

 Oleh: Fajar Dwi Affanndhi Pesta tak lagi meriah. Tidak seperti pesta yang biasa kita ketahui, hingar bingar, penuh warna-warni, dan dinanti-nanti. Pesta demokrasi di kampus ini sepi. Jangan harap perdebatan panas antar calon pemimpin. Ketika calonnya saja hanya satu. Ya, calon tunggal   tanpa lawan. Pemilu Raya, atau yang biasa kita sebut PEMIRA, kini seakan hilang greget -nya. Hampir di semua fakultas di UM terdapat calon tunggal.   Baik itu calon ketua BEM, ketua HMJ, atau bahkan yang lebih parah, calon DMF yang seharusnya dipilih lima orang dari setiap jurusan, malah hanya ada satu calon dalam satu fakultas yang notabene terdiri dari beberapa jurusan. Padahal, adanya calon tunggal bukan tidak mungkin yang terjadi mereka bakal   “menang tanpa perang”.  

BEM FPPsi: Tabrak Jalur Tapi Produktif

Fakultas Pendidikan Psikologi (FPPsi) ibarat armada kapal yang baru saja diterjunkan di samudra yang luas. Sebuah kapal yang sudah disambut dengan gulungan ombak, mau tidak mau harus segera membuka layarnya untuk bersiap ambil kemudi menempuh jarak. Lajur kemudi seperti apakah yang sedang dibentuk pada ormawa FPPsi? Kami mencoba menggalinya melalui Bu Dyah Sulistiyorini sebagai Pembina ormawa FPPsi. Budaya organisasi seperti apa di FPPsi?  “Saya mencoba membangun budaya profesional pada BEM. Semoga BEM ini bisa menjadi tempat belajar sehingga siap untuk terserap di dunia kerja. Dunia kerja itu membutuhkan orang-orang yang mempunyai ide-ide kreatifitas, analisa berpikir, dan ketahanan kerja.  Dengan seiring berjalannya waktu kami juga masih mencari visi dan misi yang tepat, tapi tetap saya ingin membentuk organisasi yang profesional. Selain itu saya ingin menyelamatkan anak-anak saya, nah karena saya tidak bisa mengubah dari atas, maka saya mengubahnya dari bawah”. ...