Skip to main content

Pemira 2015, FPPsi Menawarkan Beberapa Kelonggaran


Selasa (24/11). Pemira tahun ini, Fakultas Pendidikan Psikologi  (FPPsi) menawarkan kelonggaran dalam persyaratan pendaftaran, tepatnya pada penetapan nilai IPK minimal yang lebih rendah  (2,75) dari persyaratan dari fakultas-fakultas lainnya (3,00). Sehubungan dengan nilai minimal IPK yang masih mengikuti peraturan pemira tahun lalu  meski aturan pemira tahun ini mewajibkan IPK minimal calon adalah 3,00, Putri selaku ketua Komisi Pemilihan Fakultas (KPF) mengatakan aturan pemira di FPPsi beralasan bahwa penetapan IPK 3,00 terlalu berat bagi mahasiswa psikologi yang mencalonkan dirinya. “Kami masih menggunakan IPK 2,75 karena sangat jarang mahasiswa psikologi yang mendapatkan IPK 3,00 disebabkan materi kuliah kami yang juga sulit”
Selain pemberian ‘kelonggaran’ dari segi penurunan persyaratan IPK minimal, menurut Mega, sekertaris KPF Psikologi, pihaknya  juga melonggarkan para pendaftar DMF dan BEM untuk pengumpulan berkas. “Mereka tidak perlu datang langsung ke ruangan DMF psikologi, pengumpulan bisa melalui kpufppsi@gmail.com,” pungkas Mega. (ris/nad//gia)

Comments

Popular posts from this blog

Pemira FIS Ternodai

Indikasi Pemalsuan Syarat Pencalonan di HMJ Geografi Rabu (25/11) – Ketua Komisi Pemilihan Fakultas Ilmu Sosial (KPFIS), Junaidi, mengatakan   bahwa terjadi beberapa permasalahan pada serangkaian kegiatan Pemilihan Raya (Pemira) FIS. Salah satunya adalah i ndikasi pemanipulasian sertifikat ospek jurusan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Geografi (HMJ Volcano) untuk wakil calon nomor 1, Rezra. ”Ada ketidakterimaan dari beberapa mahasiswa mengenai salah satu calon, gara-gara ada salah satu calon yang persyaratanya nggak tepat, menurut mereka. Contohnya sertifikat mbak, menurut sang pelapor itu palsu”, ujar Subur selaku Ketua KPFIS.

Menang Tanpa Perang

 Oleh: Fajar Dwi Affanndhi Pesta tak lagi meriah. Tidak seperti pesta yang biasa kita ketahui, hingar bingar, penuh warna-warni, dan dinanti-nanti. Pesta demokrasi di kampus ini sepi. Jangan harap perdebatan panas antar calon pemimpin. Ketika calonnya saja hanya satu. Ya, calon tunggal   tanpa lawan. Pemilu Raya, atau yang biasa kita sebut PEMIRA, kini seakan hilang greget -nya. Hampir di semua fakultas di UM terdapat calon tunggal.   Baik itu calon ketua BEM, ketua HMJ, atau bahkan yang lebih parah, calon DMF yang seharusnya dipilih lima orang dari setiap jurusan, malah hanya ada satu calon dalam satu fakultas yang notabene terdiri dari beberapa jurusan. Padahal, adanya calon tunggal bukan tidak mungkin yang terjadi mereka bakal   “menang tanpa perang”.  

Partai Politik dan Pemilu, Kaderisasi dan Permainan Sepak Bola Oleh Ahlam Aliatul Rahma

Tahun 2014 memang tahun yang panas. Tahun politik katanya. Pesta demokrasi yang bakalan diselenggarakan, kini sudah di depan mata. Menggairahkan namun juga mengkhawatirkan. Apalagi, pemilihan umum untuk legislatif kini sudah dilaksanakan. Satu tahap sudah terlampaui. Namun kita belum menginjak fase klimaksnya. Fase klimaks dari ketegangan yang sudah tercipta jauh-jauh hari sebelumnya. Penentuan RI-1 pada Agustus mendatang.             Bagaimana tidak menarik kawan. Calon-calon presiden yang ada sungguh berbeda dari pemilihan umum (pemilu) tahun-tahun sebelumnya. Dari golongan muda, nampang beberapa nama yang termasuk baru dalam kancah perpolitikan bangsa, misalnya saja Anies Baswedan, Hari Tanoe Sodibyo, Chairul Tanjung, dan tokoh paling populer saat ini, siapa lagi kalau bukan Jokowi. Namun masih banyak juga tokoh-tokoh dari golongan tua yang diprediksi akan mencalonkan diri menjadi presiden Republik ini. Yang tentunya mereka ...