Skip to main content

Semangat Maba Turun, BEM FIK Kurangi Waktu



Sesuai dengan jadwal yang ditentukan pihak Universitas, hari ketiga Pengenalan Kehidupan Perguruan Tinggi (PKPT) diisi dengan demo dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di Universitas Negeri Malang (UM). Sejumlah 27 UKM, masing-masing dialokasikan waktu sepuluh menit. Guna menjaga agar Maba tidak suntuk dan tetap semangat, panitia mengurangi waktu presentasi UKM sebanyak 2-3 menit dari masing-masing UKM. Pengurangan waktu tersebut akan digunakan untuk Ice Breaking, yel-yel, dan kegiatan lainnya.

Ketika dikonfirmasi mengenai kesediaan dari pihak UKM, Hendro menyatakan pihak UKM bersedia. Namun, ketika dikonfirmasi dengan pihak UKM yang melakukan demo di FIK, Diana dari UKM Paduan Suara Mahasiswa (PSM) menyatakan tidak ada konfirmasi dari panitia BEM FIK. Tetapi, Diana mengungkapkan bahwa waktu yang diberikan sudah cukup untuk meng-cover semua materi. Meskipun tidak sampai pada sesi tanya jawab, mereka menyatakan kepuasannya. Selain UKM PSM, UKM Teater Hampa Indonesia juga menyatakan tidak ada konfirmasi dari panitia. Namun, mereka (UKM Teater Hampa Indonesia) juga merasa cukup puas dengan sambutan panitia di FIK dan semangat Maba FIK. (ryh/hrm//yna)



*buletin hal.5 terbit edisi 19 Agustus 2014

Comments

Popular posts from this blog

Feminisme & Ambiguitas Kesetaraan Hak Perempuan: Perempuan Bukan Warga Kasta Kedua yang Lemah

Feminisme & Ambiguitas Kesetaraan Hak Perempuan: Perempuan Bukan Warga Kasta  Kedua yang Lemah Ardiana Putri*   Picture by: voa_islam.com  Berbicara mengenai perempuan dan feminisme memang selalu menarik, menggelitik, dan penuh intrik. Menarik, karena hal ini selalu menjadi bahan perbincangan bahkan seiring berkembangnya zaman, gerakan-gerakan pemberdayaan perempuan semakin merebak. Menggelitik dan penuh intrik, buktinya hingga saat ini masih banyak silang sengketa pendapat dan perdebatan mengenai pemikiran feminis itu sendiri.   Banyak persepsi yang menyatakan bahwa feminisme adalah datang dari barat. Tuduhan tersebut sama sekali tidak bertendensi. F eminisme d apat dikatakan lahir di Indonesia, karena sejak lama telah ada budaya di Indonesia yang menghargai perempuan. Jauh sebelum adanya zaman kolonial, masyarakat Indonesia sangat menghargai kesetaraan. Buktinya, banyak perempuan yang menjadi pahlawan nasional dan t id ak sedikit...

Menang Tanpa Perang

 Oleh: Fajar Dwi Affanndhi Pesta tak lagi meriah. Tidak seperti pesta yang biasa kita ketahui, hingar bingar, penuh warna-warni, dan dinanti-nanti. Pesta demokrasi di kampus ini sepi. Jangan harap perdebatan panas antar calon pemimpin. Ketika calonnya saja hanya satu. Ya, calon tunggal   tanpa lawan. Pemilu Raya, atau yang biasa kita sebut PEMIRA, kini seakan hilang greget -nya. Hampir di semua fakultas di UM terdapat calon tunggal.   Baik itu calon ketua BEM, ketua HMJ, atau bahkan yang lebih parah, calon DMF yang seharusnya dipilih lima orang dari setiap jurusan, malah hanya ada satu calon dalam satu fakultas yang notabene terdiri dari beberapa jurusan. Padahal, adanya calon tunggal bukan tidak mungkin yang terjadi mereka bakal   “menang tanpa perang”.  

Jagal Despotik

Jagal Despotik *Ardiana Putri  Picture by:rdifm.co.id     Kami rakyat, masih melarat! Napas sesak, keparat! Hingga berulam air mata menghujam sesak di dada Bercucuran anyir darah, pada bahu-bahu jelata. Mari kita telisik lebih jeli  Diskriminasi Intimidasi Hentikan semua ini Buruh bersatu melawan penindasan Buruh bersatu tak bisa dikalahkan Berbagai konflik merajai pertiwi,  seakan terbungkam mulut-mulut borjuasi. Tanah harusnya milik rakyat  bukan investor biadab yang melaknat Berbagai muslihat dilancarkan,  kepada: yang melarat! Melarat! Melarat! Ah, dasar despotik! Seperti kata Wiji yang termaktub dalam hati "Maka hanya ada satu kata: lawan!" * Penulis adalah Pegiat Lembaga Pers Mahasiswa Siar UKMP UM