Skip to main content

Momen Kurang Tepat, Peminat Malang University Soccer League Kurang Siap



Dalam rangka memperingati ulang tahun ke 60, Universitas Negeri Malang (UM) menyelenggarakan serangkaian acara  dan lomba. Salah satu acara yang diselenggarakan adalah Malang University Soccer League (MUSL). Acara ini menjadi menarik karena diselenggarakan untuk pertama kalinya di UM. Rencananya liga ini akan mempertemukan 12 PTN se-Jawa Timur, akan tetapi hanya 3 PTN termasuk UM yang berlaga. Sehingga liga yang seharusnya hanya satu kali putaran diubah menjadi dua kali putaran karena kekurangan peserta. Apakah yang sebenarnya terjadi?
“Sebenarnya kami dari pihak panitia sendiri sudah siap dengan event ini, kemarin undangan  sudah di edarkan ke 12 PTN se-Jatim. Awalnya 6 PTN yang tanggap dengan kegiatan ini, tetapi setelah mendekati Tecnical Meeting (TM) 3 PTN seperti POLINEMA, UIN, dan UNEJ itu menggundurkan diri. Sedangkan PTN yang lainnya belum siap dengan alasan masih awal-awal perkuliahan,” jelas Batra selaku ketua pelaksana dari MUSL. Hal lain yang dinilai menjadi penyebab utama adalah jadwal yang pakem dari UM. Jadwal MUSL tidak bisa diundur padahal masih banyak PTN yang libur. “Kalau ini acara kita sendiri, kita pasti memilih memundurkan jadwal pertandingan.” Ungkap Batra.Faktor ini menjadikan minimnya peminat, momen yang kurang tepat menjadikan peminat berkurang. 
Padahal hadiah yang diberikan MUSL tidak main-main. Rp 4.000.000 untuk juara pertama, Rp 3.000.000 untuk juara kedua, dan Rp 2.000.000 untuk juara ketiga. Sumber dana utama dan satu-satunya event ini adalah UM. UM menurunkan dana Rp 15.000.000, dengan rincian Rp 9.000.000 untuk hadiah, Rp 500.000 untuk gaji wasit per pertandingan, dan sisanya untuk operasional panitia. “Kita sudah berusaha mencari sponsor tapi banyak yang tidak tembus karena mungkin ini event perdana, jadi banyak yang masih ragu.” Kata Batra.
Acara yang ditutup pada Sabtu (20/9) kemarin ini menghasilkan UM sebagai juara 1, UB juara 2 dan UNESA sebagai juara 3. Diharapkan UM bersedia menyelenggarakan MUSL lagi tahun depan. Selain untuk memperingati ulang tahun UM, juga bisa mengakrabkan 12 PTN se-Jatim. Harapan terbesar para panitia adalah mereka mampu menyediakan penginapan dan akomodasi para peserta MUSL selama liga berlangsung. (im/hrm//gia)

Comments

Popular posts from this blog

Feminisme & Ambiguitas Kesetaraan Hak Perempuan: Perempuan Bukan Warga Kasta Kedua yang Lemah

Feminisme & Ambiguitas Kesetaraan Hak Perempuan: Perempuan Bukan Warga Kasta  Kedua yang Lemah Ardiana Putri*   Picture by: voa_islam.com  Berbicara mengenai perempuan dan feminisme memang selalu menarik, menggelitik, dan penuh intrik. Menarik, karena hal ini selalu menjadi bahan perbincangan bahkan seiring berkembangnya zaman, gerakan-gerakan pemberdayaan perempuan semakin merebak. Menggelitik dan penuh intrik, buktinya hingga saat ini masih banyak silang sengketa pendapat dan perdebatan mengenai pemikiran feminis itu sendiri.   Banyak persepsi yang menyatakan bahwa feminisme adalah datang dari barat. Tuduhan tersebut sama sekali tidak bertendensi. F eminisme d apat dikatakan lahir di Indonesia, karena sejak lama telah ada budaya di Indonesia yang menghargai perempuan. Jauh sebelum adanya zaman kolonial, masyarakat Indonesia sangat menghargai kesetaraan. Buktinya, banyak perempuan yang menjadi pahlawan nasional dan t id ak sedikit...

Menang Tanpa Perang

 Oleh: Fajar Dwi Affanndhi Pesta tak lagi meriah. Tidak seperti pesta yang biasa kita ketahui, hingar bingar, penuh warna-warni, dan dinanti-nanti. Pesta demokrasi di kampus ini sepi. Jangan harap perdebatan panas antar calon pemimpin. Ketika calonnya saja hanya satu. Ya, calon tunggal   tanpa lawan. Pemilu Raya, atau yang biasa kita sebut PEMIRA, kini seakan hilang greget -nya. Hampir di semua fakultas di UM terdapat calon tunggal.   Baik itu calon ketua BEM, ketua HMJ, atau bahkan yang lebih parah, calon DMF yang seharusnya dipilih lima orang dari setiap jurusan, malah hanya ada satu calon dalam satu fakultas yang notabene terdiri dari beberapa jurusan. Padahal, adanya calon tunggal bukan tidak mungkin yang terjadi mereka bakal   “menang tanpa perang”.  

BEM FPPsi: Tabrak Jalur Tapi Produktif

Fakultas Pendidikan Psikologi (FPPsi) ibarat armada kapal yang baru saja diterjunkan di samudra yang luas. Sebuah kapal yang sudah disambut dengan gulungan ombak, mau tidak mau harus segera membuka layarnya untuk bersiap ambil kemudi menempuh jarak. Lajur kemudi seperti apakah yang sedang dibentuk pada ormawa FPPsi? Kami mencoba menggalinya melalui Bu Dyah Sulistiyorini sebagai Pembina ormawa FPPsi. Budaya organisasi seperti apa di FPPsi?  “Saya mencoba membangun budaya profesional pada BEM. Semoga BEM ini bisa menjadi tempat belajar sehingga siap untuk terserap di dunia kerja. Dunia kerja itu membutuhkan orang-orang yang mempunyai ide-ide kreatifitas, analisa berpikir, dan ketahanan kerja.  Dengan seiring berjalannya waktu kami juga masih mencari visi dan misi yang tepat, tapi tetap saya ingin membentuk organisasi yang profesional. Selain itu saya ingin menyelamatkan anak-anak saya, nah karena saya tidak bisa mengubah dari atas, maka saya mengubahnya dari bawah”. ...