Skip to main content

FIS, FIP, FIK Bicara Soal Penangguhan Penyebaran Buletin Siar

        Buletin Siar edisi PKPT hari pertama yang terbit pada PKPT hari ketiga dilarang menyebar di beberapa fakultas. Diantaranya adalah FS, FMIPA, FPPsi, dan FT. Pelarangan tersebut diberikan oleh DMF fakultas bersangkutan selaku panwas PKPT. 

 Disamping itu, fakultas yang memperbolehkan disebarkannya buletin Siar hanyalah FIS, FIP, FIK, dan FE saja. Empat fakultas ini memperbolehkan peredaran buletin Siar karena bagi mereka berita yang dimuat tidak menjadi masalah.


FIS
            Firman selaku perwakilan Dewan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial (DMFIS) menerangkan bahwa FIS belum menerima konfirmasi dari panitia pengawas (Panwas) PKPT mengenai penangguhan penyebarluasan buletin Siar edisi PKPT hari pertama. “Belum ada konfirmasi dari pengawas PKPT ke kita, kebetulan ketua DMF-nya lagi PPL, barangkali kalau ada, informasinya belum sampai ke kita yang di lapangan,” pungkas Firman. Menurut Firman, buletin Siar sah-sah saja untuk dibagikan di FIS. “Kalau masalah buletin seperti Siar yang berasal dari UKM, itu boleh, yang tidak boleh hanyalah video” tegas Firman.
 Saat ditanya pendapatnya tentang penangguhan peredaran buletin Siar yang dilakukan di beberapa fakultas, Firman juga menyebut pelarangan itu adalah keputusan dari fakultas masing-masing. “Tapi memang disini legalnya itu dari PPF (Panitia Pengawas Fakultas, red.), jadi ya hasil akhirnya ditentukan oleh PPF. Kalau dari beberapa fakultas ada yang melarang, itu haknya fakultas,” kata Firman.
           
FIP
            Salah satu anggota Dewan Mahasiswa Fakultas Ilmu Pengetahuan (DMFIP) mengaku, di FIP juga tidak ada konfirmasi dari Panwas mengenai pelarangan penyebaran buletin Siar edisi PKPT hari pertama. Pihak FIP belum dihubungi mengenai pelarangan tersebut. “Nggak ada, nggak ada sama sekali,” jawabnya ketika Siar bertanya tentang adanya pelarangan tersebut ada di FIP. “Mungkin bukan nggak ada ya, tapi belum ada konfirmasi. Saya nggak tahu. Soalnya kan ketua DMFnya sekarang juga lagi sakit,” tambahnya.
            Sementara itu, Hanif, Ketupel PKPT FIP, juga menyatakan hal yang sama, bahwa pihaknya tidak menerima konfirmasi apa-apa mengenai pelarangan penyebaran buletin Siar. Menurutnya penyebaran buletin adalah salah satu dari keterbukaan pers. ”Dimana-mana kalau ada pemberitaan yang kurang menyenangkan di fakultasnya, ya mungkin dari fakultasnya memang tanggapannya semacam gitu. Tapi kalau dari FIP sendiri, memang keterbukaan yang kami utamakan,” seru Hanif. Dia juga menambahkan bahwa sekarang sudah jamannya demokrasi dan sudah seharusnya menghormati keterbukaan informasi publik.

FIK
            Berbeda dengan beberapa fakultas lain yang melarang beredarnya Siar, Hendro, Ketua BEM FIK, menganggap tidak ada masalah dari Dewan Mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan (DMFIK) terkait pemberitaan yang terdapat di buletin Siar dan mereka juga tidak melarang penyebarannya di FIK. “Nggak ada masalah, sih”, cetus Hendro ketika Siar bertanya mengenai reaksi dari DMFIK. (ahl/evl//ald)

 *buletin hal.2 terbit edisi 19 Agustus 2014

Comments

Popular posts from this blog

Feminisme & Ambiguitas Kesetaraan Hak Perempuan: Perempuan Bukan Warga Kasta Kedua yang Lemah

Feminisme & Ambiguitas Kesetaraan Hak Perempuan: Perempuan Bukan Warga Kasta  Kedua yang Lemah Ardiana Putri*   Picture by: voa_islam.com  Berbicara mengenai perempuan dan feminisme memang selalu menarik, menggelitik, dan penuh intrik. Menarik, karena hal ini selalu menjadi bahan perbincangan bahkan seiring berkembangnya zaman, gerakan-gerakan pemberdayaan perempuan semakin merebak. Menggelitik dan penuh intrik, buktinya hingga saat ini masih banyak silang sengketa pendapat dan perdebatan mengenai pemikiran feminis itu sendiri.   Banyak persepsi yang menyatakan bahwa feminisme adalah datang dari barat. Tuduhan tersebut sama sekali tidak bertendensi. F eminisme d apat dikatakan lahir di Indonesia, karena sejak lama telah ada budaya di Indonesia yang menghargai perempuan. Jauh sebelum adanya zaman kolonial, masyarakat Indonesia sangat menghargai kesetaraan. Buktinya, banyak perempuan yang menjadi pahlawan nasional dan t id ak sedikit...

Menang Tanpa Perang

 Oleh: Fajar Dwi Affanndhi Pesta tak lagi meriah. Tidak seperti pesta yang biasa kita ketahui, hingar bingar, penuh warna-warni, dan dinanti-nanti. Pesta demokrasi di kampus ini sepi. Jangan harap perdebatan panas antar calon pemimpin. Ketika calonnya saja hanya satu. Ya, calon tunggal   tanpa lawan. Pemilu Raya, atau yang biasa kita sebut PEMIRA, kini seakan hilang greget -nya. Hampir di semua fakultas di UM terdapat calon tunggal.   Baik itu calon ketua BEM, ketua HMJ, atau bahkan yang lebih parah, calon DMF yang seharusnya dipilih lima orang dari setiap jurusan, malah hanya ada satu calon dalam satu fakultas yang notabene terdiri dari beberapa jurusan. Padahal, adanya calon tunggal bukan tidak mungkin yang terjadi mereka bakal   “menang tanpa perang”.  

Apakah Pemira Kompetitif Selalu Berakhir Tidak Sportif?

Rabu, 11 november 2013 Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Malang (UM) melaksanakan PEMIRA FE UM 2014. Pemira tahun ini berbeda dengan tahun yang sebelumnya, yang terbukti dengan antusiasnya mahasiswa dalam mengikuti pemira ini. Banyak dari mereka yang berbondong-bondong ke tempat pemilihan untuk menyuarakan suara mereka sehingga pemira periode ini kesannya lebih “rame” jika dibandingkan dengan tahun lalu. Tidak hanya itu pemilihan saat ini juga bisa dibilang sangat kompetitif yang pada akhirnya terjadi ketidak sportifan karena terbukti dengan adanya permasalahan yang cukup kompleks yang terjadi selama masa kampanye dan juga pada saat hari H pemilihan.   Permasalahan yang pertama adalah muncul pada saat hari H pemilihan ada sebuah selebaran yang berisi tentang pelet dalam pemilu dan terlibatnya mahluk-mahluk gaib didalam pemira ini. Dalam selebaran yang berjudul “NYI PELET IKUT PEMILU?” tersebut berisi tentang ajakan agar mahasiswa lebih kritis dalam memilih pemimpin yang u...