Skip to main content

DMF Psikologi, DMFIK dan Perbedaan Interpretasi Peneriakan Yel



Ketika disinggung mengenai isi pemberitaan yang menyatakan FIK melanggar aturan penggunaan yel-yel saat PKPT hari pertama, Ketua BEM FIK, Hendro, mengatakan bahwa informasi dari DMFIK menyatakan bahwa yang dilarang adalah suara-suara dan slogan yang dapat memancing keributan. Maka dari itu, dia menganggap selain hal itu diperbolehkan. ”Kalau dari DMF kita (DMFIK, Red.), pokoknya nggak membunyikan suara-suara atau slogan yang mancing keributan. Kalau cuma tepuk tangan nggak ada yang wah saya kira,” ungkapnya. 


Hal tersebut berbeda dengan yang dikatakan oleh DMF Psikologi, Riski, bahwasanya yel-yel adalah semua hal yang menimbulkan suara termasuk gerakan tepuk tangan sekalipun.

Meskipun begitu Hendro mengaku sempat ditegur ketika rapat evaluasi PKPT hari pertama. Ia berdalih bahwa tepuk tangan serempak di FIK adalah spontanitas belaka. ”Saya kemarin malah usul kalau ada yel-yel malah lebih bagus soalnya kita kan pasti bosen. Yang penting tetep satu, UM,” imbuhnya. (ahl/evl//ald)




*buletin hal.4 terbit edisi 19 Agustus 2014
 

Comments

Popular posts from this blog

Feminisme & Ambiguitas Kesetaraan Hak Perempuan: Perempuan Bukan Warga Kasta Kedua yang Lemah

Feminisme & Ambiguitas Kesetaraan Hak Perempuan: Perempuan Bukan Warga Kasta  Kedua yang Lemah Ardiana Putri*   Picture by: voa_islam.com  Berbicara mengenai perempuan dan feminisme memang selalu menarik, menggelitik, dan penuh intrik. Menarik, karena hal ini selalu menjadi bahan perbincangan bahkan seiring berkembangnya zaman, gerakan-gerakan pemberdayaan perempuan semakin merebak. Menggelitik dan penuh intrik, buktinya hingga saat ini masih banyak silang sengketa pendapat dan perdebatan mengenai pemikiran feminis itu sendiri.   Banyak persepsi yang menyatakan bahwa feminisme adalah datang dari barat. Tuduhan tersebut sama sekali tidak bertendensi. F eminisme d apat dikatakan lahir di Indonesia, karena sejak lama telah ada budaya di Indonesia yang menghargai perempuan. Jauh sebelum adanya zaman kolonial, masyarakat Indonesia sangat menghargai kesetaraan. Buktinya, banyak perempuan yang menjadi pahlawan nasional dan t id ak sedikit...

Menang Tanpa Perang

 Oleh: Fajar Dwi Affanndhi Pesta tak lagi meriah. Tidak seperti pesta yang biasa kita ketahui, hingar bingar, penuh warna-warni, dan dinanti-nanti. Pesta demokrasi di kampus ini sepi. Jangan harap perdebatan panas antar calon pemimpin. Ketika calonnya saja hanya satu. Ya, calon tunggal   tanpa lawan. Pemilu Raya, atau yang biasa kita sebut PEMIRA, kini seakan hilang greget -nya. Hampir di semua fakultas di UM terdapat calon tunggal.   Baik itu calon ketua BEM, ketua HMJ, atau bahkan yang lebih parah, calon DMF yang seharusnya dipilih lima orang dari setiap jurusan, malah hanya ada satu calon dalam satu fakultas yang notabene terdiri dari beberapa jurusan. Padahal, adanya calon tunggal bukan tidak mungkin yang terjadi mereka bakal   “menang tanpa perang”.  

Jagal Despotik

Jagal Despotik *Ardiana Putri  Picture by:rdifm.co.id     Kami rakyat, masih melarat! Napas sesak, keparat! Hingga berulam air mata menghujam sesak di dada Bercucuran anyir darah, pada bahu-bahu jelata. Mari kita telisik lebih jeli  Diskriminasi Intimidasi Hentikan semua ini Buruh bersatu melawan penindasan Buruh bersatu tak bisa dikalahkan Berbagai konflik merajai pertiwi,  seakan terbungkam mulut-mulut borjuasi. Tanah harusnya milik rakyat  bukan investor biadab yang melaknat Berbagai muslihat dilancarkan,  kepada: yang melarat! Melarat! Melarat! Ah, dasar despotik! Seperti kata Wiji yang termaktub dalam hati "Maka hanya ada satu kata: lawan!" * Penulis adalah Pegiat Lembaga Pers Mahasiswa Siar UKMP UM