Skip to main content

Konsep PKPT 2014 Bikin Kecewa

     Pemilihan konsep PKPT 2014 dinilai mengecewakan oleh sejumlah pihak. Dalam konsep PKPT tahun ini, acara dibagi menjadi dua rangkaian: akademik dan non-akademik. PKPT akademik dilaksanakan selama empat hari (13-16 Agustus 2014), berupa materi-materi tentang pengenalan dunia kampus yang diberikan oleh dosen-dosen sehingga tidak akan ada demo UKM sebab demo UKM termasuk dalam kegiatan non-akademik. Konsep ini mendapat kritikan dari BEM FT, yang berpendapat bahwa hal itu tidak efektif jika diterapkan di FT, karena dikhawatirkan nantinya akan banyak Maba FT bersikap kurang sopan dan mempunyai mental kurang tertata. PKPT dengan konsep akademis cocok diterapkan pada jenjang yang lebih tinggi, misalnya jenjang S2. “Kalo ospek duduk aja kan ngantuk,” kata Hakim Fathoni, Humas BEM FT.

    Kritikan juga datang dari BEM FS yang mengeluhkan tentang pembagian jadwal tersebut yang sebelumnya menyatu. Kegiatan open house UKM yang akan dilakasanakan pada 23 Agustus mendatang,menjadi masalah tersendiri bagi Fakultas Sastra dikarenakan jadwal tersebut bentrok dengan kegiatan Bakti Sosial (Baksos) Mahasiswa Fakultas Sastra yang rencananya akan dilaksanakan di Coban Rondo. Sehingga partisipasi mahasiswa baru (Maba) terutama Maba Fakultas Sastra tentunya akan berkurang daripada tahun lalu. Berdasarkan penuturan Andika,  Jadwal Baksos Mahasiswa Fakultas Sastra bentrok dengan jadwal open house UKM karena jadwal tersebut sudah direncanakan sejak awal masa jabatan Januari lalu. “Pada waktu itu, PKPT 2014 diperkirakan rangkaian kegiatannya sama dengan jadwal PKPT 2013 sehingga apabila Baksos mahasiswa dilaksanakan selain tanggal 23 Agustus maka akan bentrok dengan jadwal kegiatan dari HMJ di Fakultas Sastra,” jelas Andika.

     Andika juga menambahkan bahwa dirinya kecewa karena fakultas tidak dilibatkan dalam pengambilan putusan konsep PKPT tahun ini. “Surat keputusan tentang pelaksanaan kegiatan PKPT tahun 2014 dirapatkan dan diputuskan tanpa melibatkan pihak BEMFA”, jelas Andika mahasiswa angkatan 2011 ini. Selain itu, komunikasi yang terputus antara BEMFA dengan rektorat akibat vakumnya BEM Universitas (BEM-U) selama satu tahun terakhir membuat aspirasi dari BEMFA menjadi terhambat. BEMFA dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang kurang setuju dengan konsep PKPT 2014 tidak bisa memberikan aspirasinya ke pihak rektorat karena tidak adanya BEM-U yang menjadi penghubung komunikasi antara BEMFA dan  pihak rektorat.

    Tidak adanya demo UKM juga mengakibatkan Pengurus UKM merasa kurang all-out dalam mempromosikan UKM mereka, karena semua UKM hanya diwajibakan untuk mengumpulkan video sebagai promosi UKM mereka. Selain itu, para pengurus juga mengalami kesulitan dalam menyosialisasikan kegiatan mereka, salah satunya dalam membuat video demo UKM. “Tidak ada kesulitan dalam mengedit  kumpulan video UKM. Namun, ada satu UKM  yang terlambat dalam mengumpulkan video profilnya,” tutur Rendy, salah satu mahasiswa yang bergelut di UKM Himafo. (iey/adt/rdi/eva/sof/ris//myd/yna)

*buletin hal.5. terbit edisi 13 Agustus 2014

Comments

Popular posts from this blog

Menang Tanpa Perang

 Oleh: Fajar Dwi Affanndhi Pesta tak lagi meriah. Tidak seperti pesta yang biasa kita ketahui, hingar bingar, penuh warna-warni, dan dinanti-nanti. Pesta demokrasi di kampus ini sepi. Jangan harap perdebatan panas antar calon pemimpin. Ketika calonnya saja hanya satu. Ya, calon tunggal   tanpa lawan. Pemilu Raya, atau yang biasa kita sebut PEMIRA, kini seakan hilang greget -nya. Hampir di semua fakultas di UM terdapat calon tunggal.   Baik itu calon ketua BEM, ketua HMJ, atau bahkan yang lebih parah, calon DMF yang seharusnya dipilih lima orang dari setiap jurusan, malah hanya ada satu calon dalam satu fakultas yang notabene terdiri dari beberapa jurusan. Padahal, adanya calon tunggal bukan tidak mungkin yang terjadi mereka bakal   “menang tanpa perang”.  

Pemuda Dalam Pergolakan Politik Nasional

Picture by: Qureta.com Pemuda   Dalam   Pergolakan   Politik   Nasional *Randi Muchariman Mari   kita memulainya dengan   sebuah cerita.   Tentang seorang pemuda yang resah dengan kehidupan petani yang setiap hari bekerja namun ia tidak mendapatkan hasil yang setara dengan yang telah dikerjakannya karena lahan yang digarapnya bukan milik dirinya sendiri.   Pemuda itu terus hidup dan melalui berbagai peristiwa dengan keresahannya. Ia membangun gagasan dan narasi bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk bangsanya. Ia memiliki kecintaan terhadap rakyat dan bangsa yang sedang dibangunnya. Sehingga ia sampai hati harus menyatakan bahwa andaikata harus bekerjasama dengan iblis untuk memerdekakan bangsanya, maka itu akan dilakukannya.