Skip to main content

FIK Siaga PKPT Maba UM 2014

    Pengenalan Kehidupan Perguruan Tinggi (PKPT) Mahasiswa baru (Maba) tahun 2014 Universitas Negeri Malang (UM), berlangsung selama 4 hari, mulai Rabu (13/8) hingga Sabtu (16/8). Sesuai dengan surat pemberitahuan WR I Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo, M.Pd selaku Ketua Umum PKPT 2014 yang menegaskan PKPT 2014 untuk Maba berbasis kelas yakni seluruh kegiatan dilakukan di dalam ruang kelas masing-masing fakultas.

    Pada pelaksanaan PKPT 2014 ini, BEM Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) UM siaga. Hal ini terlihat dari kesibukan yang ada di sekretariat BEM FIK UM. Persiapan PKPT 2014 ini sesuai dengan surat pemberitahuan Ketua Umum PKPT 2014 dengan berbasis kelas, maka panitia melakukan pembentukan kelompok sejumlah 13 kelompok. Hal ini seperti yang dituturkan Nanda selaku panitia PKPT FIK 2014, “Mahasiswa baru di FIK akan dibentuk menjadi 13 kelompok dengan jumlah masing-masing kelompok berkisar 30 sampai 32 mahasiswa dengan formasi gabungan dari seluruh prodi yang ada di FIK”. Nanda pun menambahkan, “harapannya dengan ada gabungan dari berbagai prodi di FIK maba 2014 bisa lebih saling mengenal dan bisa menjalin komunikasi antar maba FIK 2014.”
 
      Kesiagaan panitia PKPT FIK UM juga terlihat dari penentuan dress code untuk maba 2014 pada hari ke-3 dan ke-4 PKPT 2014. Pada hari ke-3 dan ke-4 tersebut Maba FIK akan mngenakan baju olahraga dengan warna yang disamakan sesuai dengan kelompoknya. Tempat pelaksanaan PKPT 2014 panitia FIK menggunakan gedung Sasana Krida dan lapangan tenis, sedangkan untuk pembukaan dilakukan bersama-sama dengan seluruh fakultas lainnya yang terdapat di UM yaitu dengan menggunakan gedung Graha Cakrawala. (ryh//ika)

*buletin hal.5. terbit edisi 13 Agustus 2014

Comments

Popular posts from this blog

Feminisme & Ambiguitas Kesetaraan Hak Perempuan: Perempuan Bukan Warga Kasta Kedua yang Lemah

Feminisme & Ambiguitas Kesetaraan Hak Perempuan: Perempuan Bukan Warga Kasta  Kedua yang Lemah Ardiana Putri*   Picture by: voa_islam.com  Berbicara mengenai perempuan dan feminisme memang selalu menarik, menggelitik, dan penuh intrik. Menarik, karena hal ini selalu menjadi bahan perbincangan bahkan seiring berkembangnya zaman, gerakan-gerakan pemberdayaan perempuan semakin merebak. Menggelitik dan penuh intrik, buktinya hingga saat ini masih banyak silang sengketa pendapat dan perdebatan mengenai pemikiran feminis itu sendiri.   Banyak persepsi yang menyatakan bahwa feminisme adalah datang dari barat. Tuduhan tersebut sama sekali tidak bertendensi. F eminisme d apat dikatakan lahir di Indonesia, karena sejak lama telah ada budaya di Indonesia yang menghargai perempuan. Jauh sebelum adanya zaman kolonial, masyarakat Indonesia sangat menghargai kesetaraan. Buktinya, banyak perempuan yang menjadi pahlawan nasional dan t id ak sedikit...

Menang Tanpa Perang

 Oleh: Fajar Dwi Affanndhi Pesta tak lagi meriah. Tidak seperti pesta yang biasa kita ketahui, hingar bingar, penuh warna-warni, dan dinanti-nanti. Pesta demokrasi di kampus ini sepi. Jangan harap perdebatan panas antar calon pemimpin. Ketika calonnya saja hanya satu. Ya, calon tunggal   tanpa lawan. Pemilu Raya, atau yang biasa kita sebut PEMIRA, kini seakan hilang greget -nya. Hampir di semua fakultas di UM terdapat calon tunggal.   Baik itu calon ketua BEM, ketua HMJ, atau bahkan yang lebih parah, calon DMF yang seharusnya dipilih lima orang dari setiap jurusan, malah hanya ada satu calon dalam satu fakultas yang notabene terdiri dari beberapa jurusan. Padahal, adanya calon tunggal bukan tidak mungkin yang terjadi mereka bakal   “menang tanpa perang”.  

Jagal Despotik

Jagal Despotik *Ardiana Putri  Picture by:rdifm.co.id     Kami rakyat, masih melarat! Napas sesak, keparat! Hingga berulam air mata menghujam sesak di dada Bercucuran anyir darah, pada bahu-bahu jelata. Mari kita telisik lebih jeli  Diskriminasi Intimidasi Hentikan semua ini Buruh bersatu melawan penindasan Buruh bersatu tak bisa dikalahkan Berbagai konflik merajai pertiwi,  seakan terbungkam mulut-mulut borjuasi. Tanah harusnya milik rakyat  bukan investor biadab yang melaknat Berbagai muslihat dilancarkan,  kepada: yang melarat! Melarat! Melarat! Ah, dasar despotik! Seperti kata Wiji yang termaktub dalam hati "Maka hanya ada satu kata: lawan!" * Penulis adalah Pegiat Lembaga Pers Mahasiswa Siar UKMP UM