Skip to main content

Psycho Village dan ChaBul FPPsi

                                               
“Psycho Village, Merintis Satu Warna Segala Rasa” itulah tema Pengenalan Kehidupan Perguruan Tinggi (PKPT) yang diusung oleh Fakultas Pendidikan Psikologi (FPPsi) tahun ini. Menurut keterangan humas Panitia PKPT FPPsi 2013, fakultas psikologi diibaratkan sebuah desa, mereka ingin memperkenalkan seluk-beluk keadaan lingkungan FPPsi pada mahasiswa baru (Maba) dengan baik. Merintis Satu Warna Segala Rasa menyiratkan makna bahwa mereka ingin terjalin kekompakan dan kekeluargaan sesama mahasiswa psikologi, dari berbagai angkatan tanpa membedakan tingkat. Mahasiswa baru fakultas psikologi diberi julukan “Magenta Muda”. Magenta diambil dari warna bendera psikologi yaitu ungu magenta dan muda melambangkan kondisi mereka sebagai anggota baru di FPPsi.

Pelaksaan PKPT tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Selama 4 hari PKPT, Maba akan menerima materi di dalam ruangan selama 3 hari. Di hari pertama Maba dikondisikan untuk berada di gedung Graha Cakrawala, untuk pembukaan PKPT dan melihat pertunjukan dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Barulah di hari kedua hingga keempat materi mulai diberikan pada Maba. Menurut Agus, humas PKPT 2013, “Yang disiapkan panitia untuk PKPT tahun ini adalah materi yang mendidik untuk Maba dan pemateri. Panitia mengambil lokasi di Aula Perpustakaan untuk pemberian materi.

Seperti tahun–tahun sebelumnya, sebagai ciri khas fakultas psikologi, akan kembali diadakan kegiatan “CaBul” atau Character Building. “Pembentukan karakter sangat diperlukan agar Maba dapat beradaptasi dengan baik.”, tegas Agus. Kegiatan pembentukan karakter akan dilaksanakan selama 2 hari setalah PKPT, yaitu Sabtu dan Minggu ( 24-25/8) yang akan diisi dengan pemberian materi tentang kefakultasan dan penjelasan mengenai wadah penyaluran bakat dan minat mahasiswa, seperti olahraga, musik, tari, drama, dan bidang lain.

Saat disinggung soal optimalisasi kegiatan PKPT tahun ini yang hanya berisi pemberian materi di dalam ruangan, Agus mengatakan bahwa kemungkinan susunan acara yang akan dilaksanakan oleh fakultas psikologi tidak hanya berhenti di PKPT saja. Selain CaBul mungkin akan ada rentetan kegiatan lain yang akan dilaksanakan. Keberhasilan PKPT akan terlihat setelah perkuliahan dimulai. Apabila semua Maba dapat beradaptasi dengan baik, maka perubahan sistem ini baru bisa dikatakan berhasil. (ang/vga)


*buletin hal.3. Tanggal terbit 20 Agustus 2013

Comments

Popular posts from this blog

Feminisme & Ambiguitas Kesetaraan Hak Perempuan: Perempuan Bukan Warga Kasta Kedua yang Lemah

Feminisme & Ambiguitas Kesetaraan Hak Perempuan: Perempuan Bukan Warga Kasta  Kedua yang Lemah Ardiana Putri*   Picture by: voa_islam.com  Berbicara mengenai perempuan dan feminisme memang selalu menarik, menggelitik, dan penuh intrik. Menarik, karena hal ini selalu menjadi bahan perbincangan bahkan seiring berkembangnya zaman, gerakan-gerakan pemberdayaan perempuan semakin merebak. Menggelitik dan penuh intrik, buktinya hingga saat ini masih banyak silang sengketa pendapat dan perdebatan mengenai pemikiran feminis itu sendiri.   Banyak persepsi yang menyatakan bahwa feminisme adalah datang dari barat. Tuduhan tersebut sama sekali tidak bertendensi. F eminisme d apat dikatakan lahir di Indonesia, karena sejak lama telah ada budaya di Indonesia yang menghargai perempuan. Jauh sebelum adanya zaman kolonial, masyarakat Indonesia sangat menghargai kesetaraan. Buktinya, banyak perempuan yang menjadi pahlawan nasional dan t id ak sedikit...

Menang Tanpa Perang

 Oleh: Fajar Dwi Affanndhi Pesta tak lagi meriah. Tidak seperti pesta yang biasa kita ketahui, hingar bingar, penuh warna-warni, dan dinanti-nanti. Pesta demokrasi di kampus ini sepi. Jangan harap perdebatan panas antar calon pemimpin. Ketika calonnya saja hanya satu. Ya, calon tunggal   tanpa lawan. Pemilu Raya, atau yang biasa kita sebut PEMIRA, kini seakan hilang greget -nya. Hampir di semua fakultas di UM terdapat calon tunggal.   Baik itu calon ketua BEM, ketua HMJ, atau bahkan yang lebih parah, calon DMF yang seharusnya dipilih lima orang dari setiap jurusan, malah hanya ada satu calon dalam satu fakultas yang notabene terdiri dari beberapa jurusan. Padahal, adanya calon tunggal bukan tidak mungkin yang terjadi mereka bakal   “menang tanpa perang”.  

Jagal Despotik

Jagal Despotik *Ardiana Putri  Picture by:rdifm.co.id     Kami rakyat, masih melarat! Napas sesak, keparat! Hingga berulam air mata menghujam sesak di dada Bercucuran anyir darah, pada bahu-bahu jelata. Mari kita telisik lebih jeli  Diskriminasi Intimidasi Hentikan semua ini Buruh bersatu melawan penindasan Buruh bersatu tak bisa dikalahkan Berbagai konflik merajai pertiwi,  seakan terbungkam mulut-mulut borjuasi. Tanah harusnya milik rakyat  bukan investor biadab yang melaknat Berbagai muslihat dilancarkan,  kepada: yang melarat! Melarat! Melarat! Ah, dasar despotik! Seperti kata Wiji yang termaktub dalam hati "Maka hanya ada satu kata: lawan!" * Penulis adalah Pegiat Lembaga Pers Mahasiswa Siar UKMP UM