Skip to main content

MABA FIK PKPT di Lapangan Tenis

Malang (20/8), Pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Perguruan Tinggi Fakultas Ilmu Keolahragaan (PKPT-FIK) berjalan dengan lancar meskipun angin kencang menembus lapangan tenis semi indoor di dekat Graha Cakrawala. Awalnya mahasiswa baru (Maba) FIK ini ditempatkan di gedung Kenanga namun kapasitas gedung tersebut tidak memadai untuk menampung 520 Maba, akhirnya PKPT ditempatkan di lapangan tenis. “Adanya pemindahan tempat yang mendadak ini membuat panitia PKPT-FIK mempunyai gagasan agar Maba tersebut membawa alas duduk berupa sajadah dengan tujuan agar sekaligus bisa digunakan untuk alas sholat berjamaah. Namun, karena PKPT diagendakan selesai pukul 13.00 EIB akhirnya panitia mengusulkan untuk membawa kardus sebagai alas duduk,” papar Imam selaku penanggung jawab panitia PKPT-FIK.

Sayangnya usul tersebut tidak berjalan mulus, setelah usulan tersebut disampaikan kepada wakil Dekan dan diterima, namun saat dikonfirmasi ke Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEM-U) ternyata BEM-U tidak menyetujui karena dirasa usulan tersebut dapat merepotkan Maba. “Padahal, maksud panitia PKPT-FIK memakai alas kardus bukan koran agar para Maba FIK tidak terlalu kedinginan mengingat tempat yang digunakan semi terbuka.” Imbuh Imam. Merujuk pada pernyataan BEM-U akhirnya panitia PKPT-FIK mengusulkan peminjaman karpet ke Graha Cakrawala. (red//den)

*buletin hal.3. Tanggal terbit 21 Agustus 2013


Comments

Popular posts from this blog

Feminisme & Ambiguitas Kesetaraan Hak Perempuan: Perempuan Bukan Warga Kasta Kedua yang Lemah

Feminisme & Ambiguitas Kesetaraan Hak Perempuan: Perempuan Bukan Warga Kasta  Kedua yang Lemah Ardiana Putri*   Picture by: voa_islam.com  Berbicara mengenai perempuan dan feminisme memang selalu menarik, menggelitik, dan penuh intrik. Menarik, karena hal ini selalu menjadi bahan perbincangan bahkan seiring berkembangnya zaman, gerakan-gerakan pemberdayaan perempuan semakin merebak. Menggelitik dan penuh intrik, buktinya hingga saat ini masih banyak silang sengketa pendapat dan perdebatan mengenai pemikiran feminis itu sendiri.   Banyak persepsi yang menyatakan bahwa feminisme adalah datang dari barat. Tuduhan tersebut sama sekali tidak bertendensi. F eminisme d apat dikatakan lahir di Indonesia, karena sejak lama telah ada budaya di Indonesia yang menghargai perempuan. Jauh sebelum adanya zaman kolonial, masyarakat Indonesia sangat menghargai kesetaraan. Buktinya, banyak perempuan yang menjadi pahlawan nasional dan t id ak sedikit...

Menang Tanpa Perang

 Oleh: Fajar Dwi Affanndhi Pesta tak lagi meriah. Tidak seperti pesta yang biasa kita ketahui, hingar bingar, penuh warna-warni, dan dinanti-nanti. Pesta demokrasi di kampus ini sepi. Jangan harap perdebatan panas antar calon pemimpin. Ketika calonnya saja hanya satu. Ya, calon tunggal   tanpa lawan. Pemilu Raya, atau yang biasa kita sebut PEMIRA, kini seakan hilang greget -nya. Hampir di semua fakultas di UM terdapat calon tunggal.   Baik itu calon ketua BEM, ketua HMJ, atau bahkan yang lebih parah, calon DMF yang seharusnya dipilih lima orang dari setiap jurusan, malah hanya ada satu calon dalam satu fakultas yang notabene terdiri dari beberapa jurusan. Padahal, adanya calon tunggal bukan tidak mungkin yang terjadi mereka bakal   “menang tanpa perang”.  

BEM FPPsi: Tabrak Jalur Tapi Produktif

Fakultas Pendidikan Psikologi (FPPsi) ibarat armada kapal yang baru saja diterjunkan di samudra yang luas. Sebuah kapal yang sudah disambut dengan gulungan ombak, mau tidak mau harus segera membuka layarnya untuk bersiap ambil kemudi menempuh jarak. Lajur kemudi seperti apakah yang sedang dibentuk pada ormawa FPPsi? Kami mencoba menggalinya melalui Bu Dyah Sulistiyorini sebagai Pembina ormawa FPPsi. Budaya organisasi seperti apa di FPPsi?  “Saya mencoba membangun budaya profesional pada BEM. Semoga BEM ini bisa menjadi tempat belajar sehingga siap untuk terserap di dunia kerja. Dunia kerja itu membutuhkan orang-orang yang mempunyai ide-ide kreatifitas, analisa berpikir, dan ketahanan kerja.  Dengan seiring berjalannya waktu kami juga masih mencari visi dan misi yang tepat, tapi tetap saya ingin membentuk organisasi yang profesional. Selain itu saya ingin menyelamatkan anak-anak saya, nah karena saya tidak bisa mengubah dari atas, maka saya mengubahnya dari bawah”. ...