Skip to main content

Bemfa Kehilangan Taji


Ada yang berbeda pada pelaksanaan PKPT hari pertama (19/8) tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya. Tidak dijumpai lagi atibut-atribut unik yang biasanya menjadi perlengkapan yang wajib dibawa Maba seperti tahun-tahun lalu. Tidak ada lagi sirine dan teriakan panitia di pagi buta yang menyuruh Maba bergegas. Jadwal masuk Maba pun sangat longgar, jika tahun sebelumnya Maba diwajibkan datang jam 05.00 WIB, tahun ini Maba masuk jam 07.00 WIB. Selain itu, tidak ada lagi seremoni pagi di fakultas masing-masing karena Maba diarahkan untuk langsung berkumpul di Graha Cakrawala.



Tidak adanya pengumpulan di Fakultas sesuai dengan pengumuman Rektor Nomor7290/UN32.I/PKPT/2013. Pada PKPT tahun ini semua kegiatan dihandle oleh pihak BEM Universitas, BEM Fakultas hanya bertugas melakukan presensi dan mempersiapkan materi saja. Menurut Khotib selaku ketua pelaksana PKPT BEM FIS, “Pada PKPT tahun ini, BEMFA seperti “pembantu” saja, dikarenakan semua kegiatan dihandle BEM-U, ruang gerak kita sangat dibatasi oleh mereka sehingga sepertinya BEMFA tidak mempunyai peran sama sekali.” Dampak adanya peraturan terbaru ini, pihak BEM FIS merasa kesulitan dalam mengkoordinasi Maba. Hal tersebut juga dinyatakan Uta, anggota sie acara BEM-FIS.


Selain itu, Uta menjelaskan, “Pelaksanaan PKPT tahun ini kurang efektif dan kurang berkesan, karena peraturan yang ada, pihak BEMFA tidak bisa leluasa membuat acara yang lebih berkesan.”(fhm/vga)

*buletin halaman 4. Tanggal terbit 20 Agustus 2013

Comments

Popular posts from this blog

Menang Tanpa Perang

 Oleh: Fajar Dwi Affanndhi Pesta tak lagi meriah. Tidak seperti pesta yang biasa kita ketahui, hingar bingar, penuh warna-warni, dan dinanti-nanti. Pesta demokrasi di kampus ini sepi. Jangan harap perdebatan panas antar calon pemimpin. Ketika calonnya saja hanya satu. Ya, calon tunggal   tanpa lawan. Pemilu Raya, atau yang biasa kita sebut PEMIRA, kini seakan hilang greget -nya. Hampir di semua fakultas di UM terdapat calon tunggal.   Baik itu calon ketua BEM, ketua HMJ, atau bahkan yang lebih parah, calon DMF yang seharusnya dipilih lima orang dari setiap jurusan, malah hanya ada satu calon dalam satu fakultas yang notabene terdiri dari beberapa jurusan. Padahal, adanya calon tunggal bukan tidak mungkin yang terjadi mereka bakal   “menang tanpa perang”.  

Pemuda Dalam Pergolakan Politik Nasional

Picture by: Qureta.com Pemuda   Dalam   Pergolakan   Politik   Nasional *Randi Muchariman Mari   kita memulainya dengan   sebuah cerita.   Tentang seorang pemuda yang resah dengan kehidupan petani yang setiap hari bekerja namun ia tidak mendapatkan hasil yang setara dengan yang telah dikerjakannya karena lahan yang digarapnya bukan milik dirinya sendiri.   Pemuda itu terus hidup dan melalui berbagai peristiwa dengan keresahannya. Ia membangun gagasan dan narasi bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk bangsanya. Ia memiliki kecintaan terhadap rakyat dan bangsa yang sedang dibangunnya. Sehingga ia sampai hati harus menyatakan bahwa andaikata harus bekerjasama dengan iblis untuk memerdekakan bangsanya, maka itu akan dilakukannya.