Skip to main content

Peminat PEMIRA di FPPsi Sepi



Pemandangan di pelataran C1 area steril pemilu terlihat sangat lengang. Suasana di FPPsi cukup tenang seperti hari-hari biasanya. “Tidak antusias,kesan yang diberikan oleh Kartika Ananda, petugas KPU yang masih mengawasi jalannya pemilihan umum. Dari pukul 14.00 hingga hampir pukul 16.00 WIB, area steril pemilihan umum sangat sepi dari mahasiswa. Kartika berpendapat,Salah satu faktor yang menyebabkan sepinya pemilihan umum ini adalah sosialisasi yang kurang tepat sasaran, jadwal sosialisasi di FPPsi adalah jam 3 sore  sehingga kemungkinan mahasiswa psikologi sudah sedikit yang ada di kampus.
Salah seorang tim sukses menyayangkan tentang antusiasme mahasiswa psikologi yang terbilang minim, “ Ketika ada momen-momen pemilihan umum, kesadaran kawan-kawan Psikologi dalam mengemukakan suara untuk universitas masih belum maksimal,” Jelasnya.
Hingga pemilihan umum diakhiri, petugas KPU yang berjaga di area FPPsi, tidak bersedia memberikan keterangan tentang jumlah mahasiswa psikologi yang sudah ikut berpartisipasi dalam PEMIRA UM, “Jumlah mahasiswa psikologi yang sudah mengikuti pemilihan suara dapat dilihat sewaktu perhitugan suara di Sasana Krida.jelas PANWASLU yang bertugas. (avz//vga)

Popular posts from this blog

Menang Tanpa Perang

 Oleh: Fajar Dwi Affanndhi Pesta tak lagi meriah. Tidak seperti pesta yang biasa kita ketahui, hingar bingar, penuh warna-warni, dan dinanti-nanti. Pesta demokrasi di kampus ini sepi. Jangan harap perdebatan panas antar calon pemimpin. Ketika calonnya saja hanya satu. Ya, calon tunggal   tanpa lawan. Pemilu Raya, atau yang biasa kita sebut PEMIRA, kini seakan hilang greget -nya. Hampir di semua fakultas di UM terdapat calon tunggal.   Baik itu calon ketua BEM, ketua HMJ, atau bahkan yang lebih parah, calon DMF yang seharusnya dipilih lima orang dari setiap jurusan, malah hanya ada satu calon dalam satu fakultas yang notabene terdiri dari beberapa jurusan. Padahal, adanya calon tunggal bukan tidak mungkin yang terjadi mereka bakal   “menang tanpa perang”.  

Pemuda Dalam Pergolakan Politik Nasional

Picture by: Qureta.com Pemuda   Dalam   Pergolakan   Politik   Nasional *Randi Muchariman Mari   kita memulainya dengan   sebuah cerita.   Tentang seorang pemuda yang resah dengan kehidupan petani yang setiap hari bekerja namun ia tidak mendapatkan hasil yang setara dengan yang telah dikerjakannya karena lahan yang digarapnya bukan milik dirinya sendiri.   Pemuda itu terus hidup dan melalui berbagai peristiwa dengan keresahannya. Ia membangun gagasan dan narasi bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk bangsanya. Ia memiliki kecintaan terhadap rakyat dan bangsa yang sedang dibangunnya. Sehingga ia sampai hati harus menyatakan bahwa andaikata harus bekerjasama dengan iblis untuk memerdekakan bangsanya, maka itu akan dilakukannya.