Skip to main content

Kurang Pekanya Mahasiswa FIK terhadap Pemilu Raya



Rabu, 20 Februari 2013, ada satu hajat besar untuk induk organisasi mahasiswa di UM, yaitu pemilihan presiden mahasiswa yang diselenggarakan oleh badan eksekutif mahasiswa (BEM) pusat. Akan tetapi, acara besar ini tidak diikuti dengan semarak oleh mahasiswa fakultas ilmu keolahragaan, mereka cenderung menjadi golput dalam acara PEMIRA ini. Pada PEMIRA ini, hanya ada sekitar  180 mahasiswa yang memilih calon PRESMA dari jumlah total mahasiswa yang mencapai 1000 lebih mahasiswa di FIK.
            Usut punya usut, banyak mahasiswa FIK tidak mengetahui informasi tentang akan dilangsungkannya PEMIRA. Mereka hanya tahu informasi tersebut melalui grup facebook UM saja. Iman, salah satu mahasiswa FIK, mengatakan,” Saya hanya tahu sekilas baner di sebelah masjid Al-hikmah saja dan di group FB saja, tanpa ada sosialisasi dari BEM fakultas sendiri. Misskomunikasi  ini membuat mahasiswa enggan memilih dalam PEMIRA karena mereka tidak mengerti kriteria  calon presiden mahasiswa. Keadaan ini berbanding terbalik dengan fakultas MIPA, di sana mahasiswa antusias untuk memilih calon PRESMA.  (ngdi//vga)

Popular posts from this blog

Menang Tanpa Perang

 Oleh: Fajar Dwi Affanndhi Pesta tak lagi meriah. Tidak seperti pesta yang biasa kita ketahui, hingar bingar, penuh warna-warni, dan dinanti-nanti. Pesta demokrasi di kampus ini sepi. Jangan harap perdebatan panas antar calon pemimpin. Ketika calonnya saja hanya satu. Ya, calon tunggal   tanpa lawan. Pemilu Raya, atau yang biasa kita sebut PEMIRA, kini seakan hilang greget -nya. Hampir di semua fakultas di UM terdapat calon tunggal.   Baik itu calon ketua BEM, ketua HMJ, atau bahkan yang lebih parah, calon DMF yang seharusnya dipilih lima orang dari setiap jurusan, malah hanya ada satu calon dalam satu fakultas yang notabene terdiri dari beberapa jurusan. Padahal, adanya calon tunggal bukan tidak mungkin yang terjadi mereka bakal   “menang tanpa perang”.  

Pemuda Dalam Pergolakan Politik Nasional

Picture by: Qureta.com Pemuda   Dalam   Pergolakan   Politik   Nasional *Randi Muchariman Mari   kita memulainya dengan   sebuah cerita.   Tentang seorang pemuda yang resah dengan kehidupan petani yang setiap hari bekerja namun ia tidak mendapatkan hasil yang setara dengan yang telah dikerjakannya karena lahan yang digarapnya bukan milik dirinya sendiri.   Pemuda itu terus hidup dan melalui berbagai peristiwa dengan keresahannya. Ia membangun gagasan dan narasi bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk bangsanya. Ia memiliki kecintaan terhadap rakyat dan bangsa yang sedang dibangunnya. Sehingga ia sampai hati harus menyatakan bahwa andaikata harus bekerjasama dengan iblis untuk memerdekakan bangsanya, maka itu akan dilakukannya.