Skip to main content

DIPA Bermasalah, Kegiatan UKM Pakai Dana Sendiri



Sejak pertengahan Maret 2013 dana untuk setiap Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) belum turun dari pihak rektorat. Padahal, bulan Maret bagi sebagian UKM merupakan awal untuk menerima anggota baru dengan melaksanakan open recruitment yang tentu saja membutuhkan dana.  Sebut saja UKM Penulis, STK-AK, KSR dan UKM German.  Keterlambatan dana alokasi untuk setiap UKM dapat menghambat berjalannya pelaksanaan open recruitment.
Tertanggal 8 Februari kemarin, rekapan dana untuk UKM sudah sah dalam Surat Keputusan Rektor. Dana yang akan diterima yaitu sebesar lima juta sampai tujuh juta per UKM. Terkait dengan jumlah dana yang menurun dari tahun-tahun sebelumnya, yaitu 10, 5 juta rupiah, Pak Sucipto selaku Wakil Rektor III bagian kemahasiswaan menjelaskan bahwa besarnya dana yang akan diterima disesuaikan dengan jumlah program kerja yang sudah diajukan. Menurut beliau, penurunan dilakukan karena  ditakutkan UKM  tidak dapat mengalokasikan dana dengan maksimal. Penyaluran dana sendiri akan dikirim lewat nomor rekening setiap unit UKM.
Dalam pertemuan Forum Ketua UKM pertengahan Februari lalu, yang dihadiri oleh jajaran petinggi rektorat, KPU, Presma dan Wakil Presma, dihasilkan suatu kesimpulan bahwa dana untuk alokasi UKM dapat diurus setelah Presma dan Wapresma serta jajarannya dilantik. Sedangkan pelantikan baru dilaksanakan pada Rabu (27/3).            
Terkait dengan hal tersebut, Bapak Sucipto menjelaskan bahwa dana UKM turun setelah pelantikan Presma UM, tidak dibenarkan. “Sebenarnya menunggu kapan pelantikan Presma itu tidak benar, Mas. Saya tidak peduli dengan pekerjaan mereka kapan harus pelantikan. Biarkan diselesaikan sendiri masalah yang mereka hadapi, ” penjelasan Bapak Sucipto. 
Alokasi dana per unit UKM sudah masuk dalam catatan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) UM. DIPA merupakan rincian seluruh dana yang dibutuhkan oleh setiap instansi di UM dalam setiap tahunnya. UM sendiri sudah membuat secara detail anggaran tersebut, namun pencairan DIPA belum turun sampai berita ini dibuat (30/3). “Kami sudah menerima banyak proposal dari UKM, karena pelaksaan open recruitment, mengikuti lomba di luar kampus, maupun acara lainnya. Namun perlu Mas tau, DIPA sampai sekarang kami belum menerima. Sehingga kami belum bisa memberikan uang untuk UKM-UKM,” jelas Bapak Sucipto selaku Wakil Rektor III. Masalahnya adalah sebelumnya anggaran DIPA pendidikan negara mengalami pencurian, sehingga proses pencairan terhadap semua unit mengalami kendala besar. Salah satunya adalah pencairan tidak langsung 100%. “Teman-teman UKM yang melaksanakan program kerja bulan ini, diharapkan bisa memakai dananya sendiri terlebih dahulu,” tanggap beliau.
Terkait pemberitaan dana UKM sudah dibagikan (turun, red), pihak UM segera mencetak surat pemberitahuan kepada setiap UKM untuk memroses pencairan dana. Belum diketahui kapan DIPA bisa diterima sepenuhnya. “Ya kalau sudah kami terima dan kami kirim ke ATM masing-masing UKM. Kami akan segera sampaikan lewat surat edaran pemberitahuan.”lanjut Beliau. (dwi/nang//vga)

Popular posts from this blog

Feminisme & Ambiguitas Kesetaraan Hak Perempuan: Perempuan Bukan Warga Kasta Kedua yang Lemah

Feminisme & Ambiguitas Kesetaraan Hak Perempuan: Perempuan Bukan Warga Kasta  Kedua yang Lemah Ardiana Putri*   Picture by: voa_islam.com  Berbicara mengenai perempuan dan feminisme memang selalu menarik, menggelitik, dan penuh intrik. Menarik, karena hal ini selalu menjadi bahan perbincangan bahkan seiring berkembangnya zaman, gerakan-gerakan pemberdayaan perempuan semakin merebak. Menggelitik dan penuh intrik, buktinya hingga saat ini masih banyak silang sengketa pendapat dan perdebatan mengenai pemikiran feminis itu sendiri.   Banyak persepsi yang menyatakan bahwa feminisme adalah datang dari barat. Tuduhan tersebut sama sekali tidak bertendensi. F eminisme d apat dikatakan lahir di Indonesia, karena sejak lama telah ada budaya di Indonesia yang menghargai perempuan. Jauh sebelum adanya zaman kolonial, masyarakat Indonesia sangat menghargai kesetaraan. Buktinya, banyak perempuan yang menjadi pahlawan nasional dan t id ak sedikit...

Menang Tanpa Perang

 Oleh: Fajar Dwi Affanndhi Pesta tak lagi meriah. Tidak seperti pesta yang biasa kita ketahui, hingar bingar, penuh warna-warni, dan dinanti-nanti. Pesta demokrasi di kampus ini sepi. Jangan harap perdebatan panas antar calon pemimpin. Ketika calonnya saja hanya satu. Ya, calon tunggal   tanpa lawan. Pemilu Raya, atau yang biasa kita sebut PEMIRA, kini seakan hilang greget -nya. Hampir di semua fakultas di UM terdapat calon tunggal.   Baik itu calon ketua BEM, ketua HMJ, atau bahkan yang lebih parah, calon DMF yang seharusnya dipilih lima orang dari setiap jurusan, malah hanya ada satu calon dalam satu fakultas yang notabene terdiri dari beberapa jurusan. Padahal, adanya calon tunggal bukan tidak mungkin yang terjadi mereka bakal   “menang tanpa perang”.  

BEM FPPsi: Tabrak Jalur Tapi Produktif

Fakultas Pendidikan Psikologi (FPPsi) ibarat armada kapal yang baru saja diterjunkan di samudra yang luas. Sebuah kapal yang sudah disambut dengan gulungan ombak, mau tidak mau harus segera membuka layarnya untuk bersiap ambil kemudi menempuh jarak. Lajur kemudi seperti apakah yang sedang dibentuk pada ormawa FPPsi? Kami mencoba menggalinya melalui Bu Dyah Sulistiyorini sebagai Pembina ormawa FPPsi. Budaya organisasi seperti apa di FPPsi?  “Saya mencoba membangun budaya profesional pada BEM. Semoga BEM ini bisa menjadi tempat belajar sehingga siap untuk terserap di dunia kerja. Dunia kerja itu membutuhkan orang-orang yang mempunyai ide-ide kreatifitas, analisa berpikir, dan ketahanan kerja.  Dengan seiring berjalannya waktu kami juga masih mencari visi dan misi yang tepat, tapi tetap saya ingin membentuk organisasi yang profesional. Selain itu saya ingin menyelamatkan anak-anak saya, nah karena saya tidak bisa mengubah dari atas, maka saya mengubahnya dari bawah”. ...